Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Internasional

Ukraina Klaim Hancurkan Lebih Dari 30 Helikopter Rusia di Wilayah Kherson

Sebelumnya pada 24 Februari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan perang terhadap Ukraina dan melancarkan invasi besar-besaran

Tayang:
Editor: Wema Satya Dinata
AFP/SERGEI SUPINSKY
Anggota layanan Ukraina terlihat di lokasi pertempuran dengan kelompok penyerang Rusia di ibukota Ukraina, Kyiv, pada pagi hari 26 Februari 2022, menurut personel layanan Ukraina di tempat kejadian. 

TRIBUN-BALI.COM - Pasukan Ukraina mengklaim telah menghancurkan lebih dari 30 helikopter musuh di wilayah Kherson pada Minggu malam kemarin.

Pernyataan ini disampaikan Komando Marinir Ukraina dalam laman Facebook-nya.

"Pada malam hari, tentara Ukraina menembaki lapangan terbang Chornobaivka dekat Kherson.

Karena Rusia memutuskan untuk mengerahkan sebagian armada mereka di sana, 30-an helikopter hingga peralatan mereka pun hancur," kata Komando Marinir Ukraina dalam pernyataan tersebut.

Baca juga: PMI Asal Bali Tiba di Bandara Ngurah Rai,Wayan Amin Ngaku Terus Doakan Istri agar Selamat di Ukraina

Dikutip dari laman Ukrinform, Senin (7/3/2022), selama beberapa hari terakhir, saat mendekat ke Mykolaiv, 3 konvoi pasukan Rusia dihancurkan.

Para nasionalis Ukraina pun menyita sejumlah besar amunisi, peralatan beroda, dan 7 howitzer D-20.

Sebelumnya pada 24 Februari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan perang terhadap Ukraina dan melancarkan invasi besar-besaran.

Pasukan Rusia diklaim telah menembaki dan menghancurkan infrastruktur utama di negara tetangganya itu.

Begitu pula rudalnya yang menghantam bangunan permukiman.

Darurat militer pun akhirnya diberlakukan di Ukraina dan mobilisasi umum turut diumumkan.

Selanjutnya, Ukraina secara resmi mengajukan gugatan terhadap Federasi Rusia ke Pengadilan Internasional Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Den Haag, Belanda.

Sementara itu, alasan Rusia melancarkan operasi militer khusus di Ukraina adalah karena Ukraina dinilai gagal mengimplementasikan perjanjian Minsk dan menyelesaikan konflik di Donbass secara damai.

Putin pun mengatakan bahwa negaranya tidak punya pilihan lain selain bertindak, setelah berminggu-minggu terjadi aksi penembakan terhadap Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Lugansk (LPR) yang diklaim dilakukan oleh pasukan Ukraina.

Dengan demikian, ia kemudian memerintahkan pasukannya untuk melakukan 'demiliterisasi dan denazifikasi' negara tetangganya itu.

Baca juga: Hanya 7 dari 29 PMI Ukraina Asal Bali yang Prosedural, BP2MI Lakukan Penyetaraan

Rusia bahkan mengklaim telah berulang kali memperingatkan negara-negara Barat agar tidak mengirimkan persenjataan canggih mereka ke Ukraina.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved