Berita Karangasem
Tradisi Tatebahan di Karangasem Sebagai Wujud Syukur Akan Hasil Pertanian
Krama Desa Adat Bugbug, Kecamatan Karangasem berkumpul di Pura Bale Agung, Desa Bugbug, Jumat (15/4/2022) pagi hari.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Karsiani Putri
TRIBUN-BALI. COM, AMLAPURA - Krama Desa Adat Bugbug, Kecamatan Karangasem berkumpul di Pura Bale Agung, Desa Bugbug, Jumat (15/4/2022) pagi hari.
Mereka kumpul untuk melakukan Tradisi Tatebahan yang jatuh pada pinanggal 15 (nuju Beteng) Purnama Sasih Jiyestha.
Krama yang mengenakaan pakaian adat saling pukul dengan mengunakan pelepah pisang.
Tradisi ini mempergunakan media pelepah pisang.
Krama akan saling pukul sampai pelepah pisang hancur.
Ini adalah wujud syukur warga karena telah diberi hasil pertanian yang melimpah.
Ketua Baga Parhyangan Desa Adat Bugbug, I Wayan Artana, mengungkapkn, tradisi tatebahan adalah warisan leluuhur turun temurun yang digelar tiap tahun.
Baca juga: Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Masker di Karangasem, Lima Saksi Diperiksa
Baca juga: 7 Terdakwa Dugaan Korupsi Dana Simpan Pinjam di Rendang Bebas, Jaksa Kejari Karangasem Ajukan Kasasi
Ini berkaitan erat dengan kehidupan warga yang kerja sebagai petani.
Sumber sesajen yang dipersembahkan yakni dari pertanian.
Sebelum digelar Tradisi Tatebahan, krama lebih dulu melakukan persembahyangan area Pura Bale Agung sebagai wujud syukur.
Kemudian setelahnya dilanjutkan acara ngelungsur wangsuhpada, agar penyakit yang berdiam dalam tubuh terlihat.
Setelah itu baru dilakukan tatebahan.
Pukul pelepah pisang saat mengelar tatebahan bertujuan mengusir peenyakit.
Setelah selesai tatebahan, krama diminta ngelungsur tirta dengan harapan penyakit yang ada dalam tubuh menghilang.
Setelah tubuh sehat, warga bisa kembali beraktivitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tradisitatebahan-yang-jatuh-pada-pinanggal-15-nuju-beteng-purnama-sasih-jiyestha.jpg)