Berita Buleleng

Bangun Anjung Pandang di Jalur Shortcut, Kontraktor Gali Filosofi Sejarah Ki Barak Panji Sakti

embangunan rest area atau anjung pandang berisi patung Ida Panji Landung sedang menyunggi Ki Barak Panji Sakti di jalan baru batas kota

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Karsiani Putri
Ratu Ayu Astri Desiani
Pihak kontraktor saat menunjukan video rencana pembangunan patung Ida Panji Landung sedang menyunggi Ki Barak Panji Sakti di anjung pandang jalur shortcut titik 5-6, Jumat (22/4) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Pembangunan rest area atau anjung pandang berisi patung Ida Panji Landung sedang menyunggi Ki Barak Panji Sakti di jalan baru batas kota Singaraja-Mengwitani titik 5-6, saat ini masih dalam tahap pembuatan pondasi atau dasar bangunan.

Pembangunannya pun ditargetkan rampung pada Oktober mendatang. 

Pada Jumat (22/4), pihak kontraktor dalam hal ini PT Sinar Bali Bina Karya terpantau  melakukan pertemuan dengan penglingsir Puri Buleleng.

Pertemuan dilakukan untuk menggali filosofi dan sejarah tentang Ki Barak Panji Sakti, agar patung yang dibangun dengan tinggi 6.6 Meter itu sesuai dengan aslinya. 

Manggala Utama Pasemetonan Puri Buleleng, Anak Agung Wiranata Kusuma mengatakan, pihaknya telah memperlihatkan miniatur Raja Buleleng Ki Barak Panji Sakti, yang dimiliki oleh Puri Buleleng kepada pihak kontraktor.

Dimana dalam miniatur yang dimiliki, Ki Barak Panji Sakti terlihat sedang disunggi (digotong) oleh sosok bertubuh besar yang diketahui merupakan Ida Panji Landung.

Selain menggotong Ki Barak Panji Sakti, dalam miniatur itu Ida Panji Landung juga terlihat  dalam posisi sedang menunjuk ke arah barat. 

Wiranata menyebut, dalam proses pengerjaan patung, pihaknya meminta kepada kontraktor, agar wajah patung Ki Barak Panji Sakti dibuat lebih muda dari miniatur yang dimiliki, sesuai dengan sejarahnya. 

Selain itu posisi tangan Ida Panji Landung yang menunjuk ke arah barat, agar dibuat lebih tegas dan tinggi. 

Wiranata menuturkan, karir Ki Barak Panji Sakti menjadi Raja Buleleng diawali dari wilayah Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Saat itu  Ki Barak Panji Sakti berusia 12 tahun. Ia pergi bersama sejumlah pasukannya pergi dari Klungkung, dan kehabisan bekal saat tiba di wilayah Wanagiri.

Ia kemudian menancapkan benda pusaka, yang diberikan oleh orangtuanya ke tanah.

Konon tancapan benda pusaka itu, mengeluarkan air yang dapat dikonsumsi oleh Ki Barak Panji Sakti bersama pasukannya.

Saat ini wilayah itu dikenal sebagai Pura Yeh Ketipat. 

Selain mengeluarkan air, disaat yang bersamaan juga muncul sosok bertubuh besar, yang diketahui merupakan Ida Panji Landung.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved