Human Interest Story

Sosok AA Ardana, Sang Maestro Seni Asal Bangli yang Berjiwa Sosial Tinggi

Sosok Anak Agung Gde Bagus Ardana dikenal sebagai seorang maestro seni lukis.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Foto AA Ardana saat masih hidup 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Sosok Anak Agung Gde Bagus Ardana dikenal sebagai seorang maestro seni lukis.

Sejumlah karyanya sangat digemari bahkan tak jarang ada yang menawar dengan harga tinggi.

Hal tersebut diungkapkan anak kelima AA Ardana, Anak Agung Gede Putra Temaja Ardana, Sabtu 7 Mei 2022 kemarin. Dikatakan dia, ayahnya memang kerap melukis di kediamannya, di Puri Kilian, Puri Agung Bangli. Ciri khas lukisannya yakni semi realis cerita Ramayana dan Mahabarata.

"Beliau belajar secara otodidak. Dan beliau melukis hanya untuk mengisi waktu luang saja, dan tidak mengandalkan hidup dari lukisan. Karenanya kebanyakan lukisannya tidak dijual," ungkapnya.

Baca juga: Bukan dari Lulusan Seni Rupa, 3 Seniman Asal Bali Rilis Seni Lukis Bertemakan Silang Sengkarut

Kendati demikian, lanjut AA Temaja, beberapa lukisan ayahnya kerap dijadikan cindera mata oleh pejabat-pejabat negara. Misalnya mantan menteri PU, Ir. Soetami, mantan menteri keuangan Ali Wardhana, dan sebagainya.

AA Temaja juga mengungkapkan, sempat ada lukisan ayahnya yang berjudul 'Anoman Ngobor Alengka', yang sangat diminati oleh pecinta seni. Bahkan ditawar dengan barter mobil pada masa itu.

Namun semua itu ditolak oleh AA Ardana. "Aji (ayah) justru memberikan lukisan itu pada orang lain dengan barter jam tangan. Dengan alasan sudah kenal dekat," imbuhnya.

Selain hobi melukis, almarhum AA Ardana juga memiliki jiwa sosial tinggi.

Baca juga: KISAH INSPIRATIF Mangku Muriati, Rangkum Fenomena Pandemi Covid-19 Lewat Seni Lukis Wayang Kamasan

Semasa hidupnya, ia kerap membantu mulas (ngodak) barong yang disakralkan tanpa mengharap imbalan. Pun demikian rutin menghadiri sejumlah acara-acara yang bersifat sosial. 

Sosok penglingsir Puri Agung Bangli ini juga merupakan salah satu pahlawan yang membantu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa perang. AA Temaja mengungkapkan, perjuangan tersebut dilakukan oleh ayahnya sejak usia 12 tahun.

"Ada tugas-tugas khusus yang diberikan oleh kakak-kakaknya. Baik AA Gde Ngurah selaku kakak pertama, maupun AA Gde Anom Mudita yang merupakan kakak ketiga," ucapnya.

Diungkapkan, dalam membantu perjuangan, sosok AA Ardana muda harus berjalan kaki dari Puri Kilian menuju Desa Penglipuran hingga Desa Landih. Salah satu tugasnya yakni ikut andil saat I Gusti Ngurah Rai masuk ke Bangli pada awal long march ke Gunung Agung. 

"Jadi awal long march ke Gunung Agung kan standbynya di Desa Landih. Beliaulah yang bertugas mengatur semua kebutuhan logistik untuk para pasukan. Ini dilakukan pada malam hari. Sedangkan pagi harinya sekolah seperti biasa," kenang AA Temaja.

Pria 62 tahun itu menambahkan, dari semangat almarhum sebagai pejuang, AA Ardana selalu berpesan pada anak-anaknya bahwa pengabdian pada masyarakat sangat penting.

"Beliau selalu berpesan pada anak-anaknya, apa yang bisa kamu lakukan untuk masyarakat, lakukanlah selama kamu bisa. Dan hal inilah yang menginspirasi kami sebagai anak-anaknya, untuk mewujudkan pesan almarhum," ucap Mantan kasubag pembinaan Kejari Klungkung itu. (*)

Artikel lainnya di Human Interest Story

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved