Renungan JIwa
Kemelekatan, Hutang Energi dan Jalan Menuju Keheningan
Dalam kenyataan, bagi orang-orang tertentu berlaku ungkapan “melakukan belum tentu semudah mengucapkan
Penulis: Sunarko | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - “Saat seluruh kemelekatan dengan objek apapun telah luruh, ruang mental menjadi hening”
Demikian diungkapkan oleh seorang ahli medis sekaligus trainer dan coach, yakni dokter R.B Santoso Sp.U, yang telah menulis sejumlah buku tentang self healing dan holistic healing.
Dalam kenyataan, bagi orang-orang tertentu berlaku ungkapan “melakukan belum tentu semudah mengucapkan". Maksudnya, tidak semua orang bisa menjalani proses yang mudah dan mulus untuk mencapai keheningan. Pertanyaannya: mengapa?
Baca juga: Keheningan dan Kedamaian Nyepi di Toya Devasya
Pencapaian keheningan itu terkait erat dengan seberapa banyak dan seberapa tebal kemelekatan (pada objek, atau apapun) yang dimiliki seseorang. Semakin tebal "dinding" kemelekatan seseorang, proses untuk menuju keheningan itu bisa membutuhkan waktu lebih lama; tergantung pula pada apakah cara gradual ataukah radikal yang diambilnya untuk melepas kemelekatan.
Untuk sederhananya, anggap saja kemelekatan pada suatu objek itu sebagai lapisan.
Maka, semakin banyak objek yang seseorang lekati, itu berarti semakin tebal lapisan-lapisan kemelekatan yang “membungkus” orang itu.
Nah, dalam proses mencapai tahap keheningan, lapisan-lapisan kemelekatan itu mesti dilepas satu demi satu.
Baca juga: Kesetrum Vibrasi Energi Pak Kyai
Lapisan-lapisan kemelekatan itu merupakan “tumpukan energi negatif atau karma buruk” yang seseorang tabung dan kumpulkan sebelumnya melalui pikiran, ucapan, perbuatannya dan lain sebagainya.
Seperti lapisan-lapisan pada bawang merah, tumpukan energi negatif (yang menyebabkan penyakit, kemalangan dan berbagai keburukan lain dalam hidup) perlu dikelupas.
Dan sebagaimana pula proses mengupas bawang merah, proses mengelupas tumpukan energi negatif itu tidak jarang bisa menimbulkan deraian air mata.
Untuk gampangnya, sebut saja tumpukan energi negatif atau karma buruk itu sebagai dosa.
Baca juga: Perubahan: Pilih Cara Radikal Atau Incremental?
Baca juga: Penelitian Ilmiah: Pura Pura Bahagia Ternyata Berdampak Positif
Bisa dianalogikan, dosa adalah “hutang energi”.
Yakni, saldo energi positif yang dimiliki oleh seseorang jadi minus, karena terus diambil dan berkurang sebagai akibat dari pikiran, ucapan dan perbuatan negatifnya.
Oleh karena itu, proses menuju keheningan mau tak mau diawali dengan tahap pembersihan dosa.
Intinya, bertobat. Ada pula yang menyebut, proses pembersihan ini sebagai memasuki zona alfa.
Pada dasarnya, proses pembersihan dosa ialah juga proses melepas lapisan-lapisan kemelekatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/renungan-psikologi.jpg)