Breaking News:

Ngopi Santai

Perubahan: Pilih Cara Radikal Atau Incremental?

Semakin ekstrem “kemelencengan (kenegatifan)” kebiasaan lama yang ingin diubah, maka –logikanya— semakin besar “tarikan” di awal yang harus dilakukan

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Gambar oleh enriquelopezgarre dari Pixabay
Ilustrasi perubahan 

Pada dasarnya, cara/metode, waktu yang dibutuhkan dan timing untuk melakukan suatu perubahan tergantung pada perubahan apa yang dikehendaki atau yang dimaksudkan, serta pada bagaimana situasi-kondisi yang melingkupi.  

Selain itu, apakah perubahan sebatas individual/pribadi ataukah kolektif, itu juga bisa membuat pilihan cara/metode perubahan dan waktu yang dibutuhkannya berbeda.

Setiap perubahan membutuhkan suatu gagasan/ide yang membuka wawasan si pelaku. Ide itu bisa berasal dari manapun, tidak hanya dari orang, bisa juga dari membaca, dari kejadian-kejadian dan lain-lain.

Jika yang dimaksud dengan pencerahan itu adalah wawasan (insight) baru, maka tidak ada satupun perubahan untuk jadi lebih baik yang tidak butuh wawasan.

Jadi, pencerahan dalam arti terbukanya wawasan adalah bagian yang melekat dari perubahan.

Baca juga: Belajarlah Untuk Bertambah Bodoh

Baca juga: Vaksin Stres

Kemudian, apakah perubahan itu perlu dilakukan secara radikal ataukah incremental (gradual) tergantung pada tingkat “kemelencengan” kebiasaan lama yang ingin diubah dan kemampuan (sumber daya) serta tekad si pelaku perubahan untuk melakukan perubahan.

Semakin ekstrem “kemelencengan (kenegatifan)” kebiasaan lama yang ingin diubah, maka –logikanya— semakin besar “tarikan” di awal yang harus dilakukan untuk lepas dari kebiasaan lama itu.

Di sinilah makna radikal itu, yakni melakukan “tarikan melepas” di awal dengan kuat. Namun, setelah “tarikan melepas” yang kuat (butuh tekad dan energi besar) di awal, selanjutnya adalah proses yang lebih kecil intensitas “tarikan melepasnya” dibandingkan di awal. Di sini, perubahan kemudian bisa terkesan berjalan secara gradual atau incremental.

“Tarikan melepas” di awal yang kuat itu seperti upaya pesawat ulang-alik yang hendak menuju ruang angkasa. Ketika meninggalkan pusat peluncuran hingga menembus atmosfer Bumi, energi yang dibutuhkan oleh pesawat sangat besar. Mengapa?

Sebab, gerakan pesawat masih terpengaruh atau menghadapi “tarikan balik” gravitasi Bumi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved