Berita Denpasar
Kripto Alami Koreksi, Celios Sebut Ini Waktu Untuk Seleksi Ketahanan Nilai Aset
Aset digital kripto saat ini, ramai diperbincangkan karena tengah mengalami koreksi yang cukup dalam. Bahkan, isunya salah satu aset kripto yang d
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Marianus Seran
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Aset digital kripto saat ini, ramai diperbincangkan karena tengah mengalami koreksi yang cukup dalam.
Bahkan, isunya salah satu aset kripto yang dijagokan, terraUSD (UST) dan Luna, telah tumbang terlebih dahulu.
Lengsernya stablecoin terraUSD (UST) dan Luna, seolah menyeret ikut serta aset kripto lainnya untuk jatuh.
Baca juga: Hasil Drawing Indonesia Open 2022: Perebutkan Hadiah Rp17,6 M, Dimeriahkan Pebulutangkis Top Dunia
Menanggapi hal tersebut, Director Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, meski tengah dilanda kritis, kripto masih menjadi daya tarik investasi dalam jangka panjang.
Koreksi yang terjadi justru akan menyeleksi mana kripto yang mempunyai nilai, kebermanfaatan dalam sistem keuangan global, dan mana kripto yang hanya menjadi bagian dari spekulasi.
Menurutnya, tekanan penjualan oleh sejumlah investor di pasar kripto khususnya oleh investor kakap, seperti fund manager, memang membuat pasar kripto sempat crash.
“Ini faktornya karena kenaikan inflasi membuat investor menjauhi aset yang berisiko tinggi.
Tera-Luna hancur akibat sistem yang kurang trusted, dan developer yang tidak bertanggung jawab.
Baca juga: Tim Measurement Kelas Dunia Cek Lintasan Lari di Bali Untuk Indonesia International Marathon
Kripto yang bermasalah akan tersingkir dari pasar,” katanya pada, Sabtu 28 Mei 2022.
Lebih lanjutnya menurutnya kripto yang memiliki kepercayaan tinggi seperti Bitcoin dan Ethereum, meski terjadi koreksi akan tetapi tidak langsung jatuh dibawah posisi tahun 2020.
Bhima menyebutkan, Bitcoin saat ini berada di range 29.000 USD per koin, masih jauh lebih tinggi dibanding awal 2020 yakni 8.000 USD per koin.