Human Interest Story

Mustika Kembangkan Stroberi Jenis Sachinoka dan Jumbo, Kebun Jadi Objek Wisata yang Ramai

Sejak aktivitas masyarakat mulai dilonggarkan, kunjungan wisatawan ke tempat wisata petik buah stroberi di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Bulelen

Ratu Ayu Astri Desiani
Wisatawan saat berkunjung ke Wiwanda Agro, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Jumat (17/6) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Sejak aktivitas masyarakat mulai dilonggarkan, kunjungan wisatawan ke tempat wisata petik buah stroberi di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng meningkat.

Salah satu tempat yang kebanjiran pengunjung adalah Wiwanda Agro, milik Gede Adi Mustika.

Ditemui belum lama ini, Mustika menyebut sejak pariwisata mulai dibuka, banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke tempatnya.

Dimana jumlah kunjungan per hari rata-rata mencapai 70 orang. Bahkan sudah ada bookingan dari beberapa agen travel, yang akan mengirim wisatawannya ke Wiwanda Agro.

"Sejak pariwisata dibuka, tamu yang datang sebagian besar dari Rusia, Arab, dan Cina. Kunjungan mulai ada sejak Maret. Libur sekolah ini, tamu lokal juga banyak. Per hari rata-rata ada 70 sampai 100 orang yang berkunjung. Kalau dulu waktu masih PPKM, jumlah kunjungan 70 orang per minggu," terangnya.

Kunjungan wisatawan yang mulai meningkat ini tentu dimanfaatkan oleh Mustika dengan mengembangkan bisnis agro wisatanya, dengan menyediakan berbagai macam jenis stroberi. Seperti sachinoka dan jumbo.

Wisatawan saat berkunjung ke Wiwanda Agro, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Jumat (17/6)
Wisatawan saat berkunjung ke Wiwanda Agro, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Jumat (17/6) (Ratu Ayu Astri Desiani)

Untuk sachinoka, pengembangannya sudah dilakukan beberapa tahun lalu. Bibitnya didatangkan dari Jepang. Stroberi jenis ini memiliki tampilan yang berbeda dari stroberi pada umumnya. Bila sudah matang, maka akan berwarna putih kemerahan, seperti diselimuti salju.

Warnanya lebih manis, dan memiliki tekstur lembut. Maka tidak heran, harga jual stroberi sachinoka cukup mahal. Mencapai Rp 140 ribu per kilo.

"Harganya saya naikin, sebelumnya hanya Rp 60 ribu per kilo. Karena peminatnya banyak, rasanya lebih manis. Harganya saya naikin, agar tidak dibawa pulang. Cukup dikomsumsi di tempat.

Sementara stroberi jumbo, memiliki ukuran yang sangat besar, seperti telur ayam.

Stroberi ini mulai dikembangkan oleh Mustika sejak delapan bulan yang lalu.

Baca juga: Berlibur ke Bedugul Bali, Memetik Strawberry, Tracking, hingga Wisata Gaib

Baca juga: Jika Cuaca Mendukung, Nanti Malam Bisa Melihat Strawberry Full Moon dan Gerhana Bulan Penumbra

Dari segi rasa, stroberi jumbo tidak terlalu manis. Bahkan mengarah pada rasa hambar. Namun para wisatawan tergiur melihatnya, sebab memiliki ukuran yang lebih besar.

"Kalau bibit stroberi jumbo, awalnya saya dikasih minta sama tamu. Dikasih 2.000 pohon. Kemudian saya budidayakan, dan mulai berbuah dua bulan sejak ditanam.
Stroberi Jumbo boros dengan pupuk. Harus banyak nutrisi karena buahnya besar," jelasnya.

Mustika menuturkan, bisnis wisata petik buah stroberi ini mulai ia geluti saat dirinya ditantang oleh Kementerian melalui Balai Buah Sub Tropical yang melakukan riset di Desa Pancasari.

Pihak Balai Buah Sub Tropical saat itu menyebut bahwa orang Bali sejatinya mampu membuat trobosan baru, menanam stoberi tidak hanya ditanah, serta menggunakan cangkul.

Hingga akhirnya, Mustika mencoba membudidayakan stroberi melalui sistem hidroponik fertigasi tetes.

Dimulai dari luasan lahan sekitar 2.5 are, dengan jumlah bibit stroberi sebanyak 4.500.

Tak disangka, rencana membudidayakan stroberi melalui sistem hidroponik itu berbuah manis. Kini Mustika mampu mengembangkan bisnis agro wisata petik buah stroberinya hingga setengah hektar. (rtu)

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved