Berita Denpasar
Energi Berbasis Kerakyatan Lewat Co-firing, PLN Gaet Pemkot Cilegon Wujudkan EBT
Sebagai BUMN yang bergerak di sektor energi, PT PLN ( Persero) terus berupaya dalam pengurangan emisi karbon.
Penulis: Arini Valentya Chusni | Editor: Marianus Seran
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebagai BUMN yang bergerak di sektor energi, PT PLN ( Persero) terus berupaya dalam pengurangan emisi karbon.
Untuk diketahui, dalam setiap KWH listrik, didalamnya terdapat emisi karbon yang mengancam masa depan Indonesia.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan saat ini salah satu tantangan yang harus dijawab oleh seluruh perusahaan dan industri adalah pengurangan emisi karbon.
"Misal saja, penggunaan batu bara sebagai bahan bakar dimana menghasilkan emisi yang besar.
Baca juga: UPDATE PERSIB BANDUNG: Bagaimana Kans DAISUKE SATO Tampil kontra PSS Sleman? Ini Kata Robert Alberts
Untuk Penggantian batu bara diganti dengan penggunaan biomasa, aset tetap berjalan dan emisi bisa dikurangi. Akibat bumi yang semakin memanas, masa depan Indonesia juga terancam," ujar Darmawan Prasodjo pada Tribun Bali, Kamis (30/06/2022).
Dalam kesempatan Seminar Bioenergi Peningkatan Bauran EBT 23 % Melalui
Keberlanjutan Pasokan Bahan Bakar Co-firing & Pembangkit Bioenergi, Darmawan menekankan PLN Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan selain memastikan pasokan biomassa untuk co-firing aman, kerja sama ini juga untuk mendongkrak perekonomian masyarakat.
Dari Program Co-firing tersebut, PLN telah menghasilkan energi hijau hingga 487 MWh di mana pencapaian tahun 2021 sebesar 269 Mwh dan Jan s.d Mei tahun 2022 sebesar 218 MWh. Hingga Mei, PLN mengimplementasikan teknologi ini di 32 PLTU di seluruh Indonesia.
Baca juga: Delapan SD di Tabanan Diregrouping jadi Empat Sekolah, Menunggu SK Bupati
Dalam pelaksanaan Co-firing, PLN Grup telah membangun rantai pasok penyediaan bahan baku biomasa melalui pendampingan, pengembangan, pembudidayaan tanaman energi, limbah antara lain serbuk kayu atau sawdust, woodchip, bonggol jagung dan solid recovered fuel (SRF) dari sampah, untuk siap digunakan sebagai bahan baku biomasa cofiring.
PT PLN (Persero) menggandeng Pemerintah Kota Cilegon untuk pengembangan sumber biomassa yang akan digunakan dalam mendukung program co-firing di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
"Kota Cilegon sebagai kota percontohan dimana intinya adalah bagaimana kita bisa membangun energi yang berbasis pada kerakyatan. Disini ada penerapan nilai pada lingkungan, masalah teknis, environtment dan ekonomi kita selesaikan. Yang paling penting kita bisa ciptakan lapangan pekerjaan dan we take care of environment," ujar H. Helldy Agustian, S.E., S.H., M.H selaku Walikota Cilegon.
Selain itu, Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT PLN, Wiluyo Kusdwiharto menyatakan pencapaian energi hijau menjadi bukti keseriusan PLN dalam mendukung program transisi energi bersih menuju carbon neutral pada 2060 dan juga menjadi komitmen Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.
Untuk tahun 2022 diperkirakan kebutuhan biomassa untuk bahan bakar Co-firing mencapai 450.000 ton hingga 2023 naik 5 kali menjadi 2,2 Juta ton dari berbagai jenis biomassa.
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku biomassa, PLN telah mendapat kepastian pasokan dari sinergi BUMN, Pemerintah Daerah, bahkan hingga pihak swasta.
Darmawan selaku Dirut PLN menutup saat ini penggunaan co-firing sudah dilakukan PLN di 58 PLTU yang ada di seluruh Indonesia. Langkah ini dilakukan PLN untuk bisa mengurangi ketergantungan bahan baku batu bara dan juga untuk meningkatkan penggunaan energi bersih di PLTU.(*)