Berita Jembrana
Miliki Gejala PMK, Petugas Keswan Jembrana Ambil Sampel Beberapa Ekor Sapi
Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana bersama BBVet Denpasar mengambil sampel beberapa ekor sapi. Hal ini berkaitan ditemukannya gejala PMK
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana bersama BBVet Denpasar melakukan langkah cepat untuk mengecek penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah titik, Minggu 3 Juli 2022.
Satu persatu hewan ternak yang dilaporkan mengarah ke PMK dilakukan surveilans atau pengambilan sampel darah dan liur dari hewan sapi.
Hasilnya, dari sejumlah hewan yang diambil sampel, beberapa ekor memiliki gejala alias suspek.
Baca juga: Di Tengah Wabah PMK di Bali, Makelar Mulai Beraksi Tawar Sapi Harga Murah
Menurut pantauan di lokasi, tim dari Bidang Keswan-Kesmavet bersama petugas BBVet Denpasar mengunjungi tiga titik lokasi.
Yakni di Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung, kemudian ke Lingkungan Bilukpoh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo.
Serta ke Desa Banyubiru, Kecamatan Negara.
Total ada sekitar 21 ekor hewan sapi yang mengalami gejala mengarah ke PMK.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Sutama mengatakan, pasca ditemukannya kasus PMK di tiga wilayah lainnya, pihaknya menggandeng BBVet untuk melakukan pengecekan kesehatan hewan sapi di sejumlah titik.
"Kita lakukan pemantauan sekaligus menindaklanjuti laporan dari medikvet. Karena kemarin tanggal 28 Juni ada laporan hewan dengan indikasi atau tanda-tanda yang mengarah ke PMK," kata Sutama sembari menyebutkan total populasi sapi di gumi makepung ini sebanyak 35.131 ekor.
Baca juga: Virus PMK Sudah Masuk Bali, Jangkiti 63 Ternak Sapi
Sehingga, kata dia, pengambilan sampel darah dan swab pada hewan untuk selanjutnya dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui kepastian apakah hewan tersebut terjangkit PMK atau tidak.
"Melalui uji laboratorium nanti akan menentukan benar atau tidaknya (PMK). Hasilnya mungkin 5-7 hari ke depan. Sekaligus untuk mengetahui langkah kedepan yang dilakukan. Tapi gejalanya sih mengarah ke PMK," tegasnya.
Sutama menceritakan, sejatinya pada bulan Mei 2022 lalu, pihaknya sudah mengedarkan surat edaran dari Bupati Jembrana terkait antisipasi atau pencegahan PMK.
Selain itu, Forkompinda juga telah melakukan pemantauan ke spot-spot.
Namun, memang diakui banyak faktor yang menyebabkan kasus ini muncul di Bali.
Mulai dari tranportasi (lalulintas) ternak, alat transportasi, pakan ternak dan sebagainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petugas-kesehatan-jembrana-hewan-saat-mengambil-sampel-darah-dan-swab.jpg)