Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Kambali Zutas Merekam Sisi Kehidupan Manusia Saat Pandemi Lewat Puisi 

Jurnalis dan penyair Kambali Zutas kembali menelorkan sebuah buku antologi puisi berjudul Anak-anak Pandemi.

Tayang:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Marianus Seran
Tribun Bali
Buku Anak-anak pandemi dilaunching dan dibedah di denpasar pada Sabtu, 16 Juli 2022 sore. Sebagai pembedah adalah penyair Kardanis Muda Wijaya dan jurnalis serta penulis Ayu Sulistyowati. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Jurnalis dan penyair Kambali Zutas kembali menelorkan sebuah buku antologi puisi berjudul Anak-anak Pandemi.

Terdapat 50 puisi yang ditulis selama tiga tahun, 2019 - 2020.

Antologi ini merupakan buku puisi kedua setelah sebelumnya ia menerbitkan buku berjudul Laila Kau Biarkan Aku Majnun pada 2019 lalu.

Dan buku ini juga merupakan buku ketiganya, karena ia juga menerbitkan sebuah buku non fiksi Euforia Sepak Bola Bali (2020).

Baca juga: 30 Orang Belajar Melukis Di Daun Kering di Kebun Raya Bedugul, Upaya Lestari dan Jaga Keasrian Alam

Anak-anak pandemi dilaunching dan dibedah di denpasar pada Sabtu, 16 Juli 2022 sore.

Sebagai pembedah adalah penyair Kardanis Muda Wijaya dan jurnalis serta penulis Ayu Sulistyowati.

Muda Wijaya mengatakan meskipun judulnya Anak-anak Pandemi, namun yang dibahas tak sekadar pandemi atau Corona yang dihadapi saat ini.

Bahkan dalam antologi ini juga terdapat puisi berjudul Tikus-tikus Pandemi.

Baca juga: Yowana Agni Sudha Desa Adat Jimbaran Tampilkan Garapan “Kadgastra Swara” dalam Lomba Baleganjur

"Pandemi sesungguhnya adalah korupsi-korupsi itu. Jadi buku ini bukan hanya soal pandemi Covid," kata Muda Wijaya.

Muda juga mengatakan jika Kambali bermain-main dengan kesatiran lewat puisi.

"Dan karena hidup dalam lingkungan santri, saya melihat Kambali membuat sajak seperti berdzikir.

Itu bisa kita lihat dari Sajak Ya," kata Muda sambil mencotohkan pembacaan puisi tersebut seperti seorang berdzikir.

Sementara itu, Ayu Sulistyowati menganggap sajak Kambali ini menakutkan karena berbicara tentang surga, neraka dan mati.

"Saya membaca sepertinya tidak hal positif dari pandemi dalam puisi ini. Tapi unik, ini hanya judulnya saja Pandemi, tapi isinya tidak menyebut pandemi." kata Ayu.

Ayu mengaku suka dengan puisi Anak-anak Pamdemi #2 hal ini karena mewakili anak-anak pandemi.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved