Berita Buleleng

Sapi yang Terserang PMK Habis Dipotong Bersyarat, Kementan Janji Berikan Kompensasi Untuk Petani

Sapi yang Terserang PMK Habis Dipotong Bersyarat Kementan Janji Berikan Kompensasi Untuk Petani

Ratu Ayu Astri Desiani
Pemotongan bersyarat terhadap sejumlah sapi yang terserang PMK Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Seluruh sapi yang terserang Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK) di Buleleng telah habis dipotong bersyarat. Jumlahnya mencapai 268 ekor.

Pemkab Buleleng pun saat ini masih menunggu kepastian dari Kementerian Pertanian RI, terkait janji pemberian kompensasi untuk patani yang telah bersedia agar sapinya dipotong bersyarat.

Sekda Buleleng Gede Suyasa pada Selasa (26/7) mengatakan, seluruh sapi yang terserang PMK telah habis dipotong bersyarat pada Minggu (24/7) kemarin.

Hal ini pun sudah dilaporkan oleh pihaknya, kepada Satgas Penanganan PMK Bali dan Nasional. Dengan demikian, PMK di Buleleng saat ini sudah nol kasus.

Pemotongan bersyarat terhadap sejumlah sapi yang terserang PMK Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak
Pemotongan bersyarat terhadap sejumlah sapi yang terserang PMK Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak (Ratu Ayu Astri Desiani)

Meski sudah nol kasus, Satgas kata Suyasa saat ini tetap meningkatkan upaya pencegahan, agar PMK tidak lagi menyebar di Buleleng. Seperti penyemprotan cairan disinfektan di setiap kandang, serta gencar melaksanakan vaksinasi PMK. Dimana, sejak Senin kemarin, total sapi yang telah divaksin mencapai 11.867 ekor. Sementara vaksin yang masih tersisa saat ini mencapai 5.000 dosis. Vaksin itu akan dihabiskan dalam waktu empat hari kedepan dengan menyasar Kecamatan Seririt dan Gerokgak. Selanjutnta, pihaknya akan mengusulkan penambahan vaksin lagi ke Pemprov Bali.

Pemotongan bersyarat di Buleleng diakui Suyasa memang tidak mudah. Sempat terjadi penolakan di petani, sebab harga daging sapi yang dibeli oleh tukang jagal terlalu murah. Hal ini lantas menjadi sorotan dari Satgas Penanganan PMK nasional. Sebab daerah lain yang ada di Bali, telah selesai melalukan pemotongan bersyarat terhadap sapi- sapi yang terserang PMK. Terlebih PMK juga dikhawatirkan dapat mengganggu pariwisata di Bali.

"Harga dari tukang jagal tidak sesuai dengan keinginan petani. Buleleng kemarin masih bertahan tidak melakukan pemotongan bersyarat, karena Pemkab juga tidak ingin mengorbankan petani. Petani di Buleleng tidak semata-mata beternak sapi karena hobi. Tapi sapi juga jadi sumber penghasilan petani," kata Suyasa.

Pemotongan bersyarat akhirnya berhasil dilakukan setelah Satgas PMK Buleleng menjalani rapat bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Menkor Marves Luhut Binsar Panjaitan, pada Sabtu kemarin. Dari rapat tersebut, dipastikan kompensasi untuk petani akan segera diberikan, melalui anggaran dari Kementan. Satgas PMK Buleleng pun telah mengirim data usulan penerima kompensasi melalui Satgas PMK Bali, dilengkapi dengan bukti foto serta nama pemilik sapi.

Pasca mendapatkan kepastian terkait kompensasi itu, Satgas Buleleng kemudian melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada para petani. Hingga akhirnya petani bersedia untuk dilakukan pemotongan bersyarat.

"Sekda Bali akan terus berkoordinasi dengan Kementan, karena pemberian kompensasi menjadi tanggung jawabnya. Kami melakukan negosisasi yang cukup panjang ke petani, sampai akhirnya ada kepercayaan di petani. Langkah pemotongan bersyarat ini diambil untuk mencegah penularan lebih luas. Kalau banyak penularan Bali akan jadi zona merah, yang berdampak pada kunjungan wisatawan," jelas Suyasa. (rtu)

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved