Berita Bangli
KEMATIAN PULUHAN BABI di Banjar Penarukan Diduga Akibat Bakteri
Namun, berdasarkan gejala klinis yang diungkapkan pemilik, kematian babi cenderung dikarenakan infeksi bakteri Ecoli.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Tindak lanjut dari pemeriksaan ini, pihaknya menyarankan agar peternak memperhatikan sanitasi kandang.
Selain karena kebersihan yang kurang, bakteri Ecoli juga bisa disebabkan perubahan musim.
"Kondisi cuaca dingin mengakibatkan kandang menjadi lembab, sehingga bakteri mudah berkembang biak," ujarnya.
Atas peristiwa ini pula, pihaknya menyarankan agar peternak lebih selektif saat membeli bibit babi.
Serta memastikan bibit babi sudah divaksin.
Sebab potensi kematian babi tidak hanya diakibatkan bakteri Ecoli saja, namun juga Asian Swine Fever (ASF).
"Kasus ASF ini sebelumya sempat mereda, karena ada kebijakan pengosongan kandang.
Namun sejatinya, kasus ASF belum benar-benar hilang.
Biasanya sentral-sentral peternakan yang banyak babi keluar masuk, masih ditemukan laporan kematian babi.
Karenanya perlu juga dipahami gejala-gejala ASF.
Mulai dari muncul tanda kemerahan pada daerah perut dan telinga, demam tinggi, hingga gejala muntah.
Potensi kematian akibat ASF juga lebih cepat, biasanya 3 hingga 5 hari sejak muncul gejala," ucapnya.
Selain melakukan pemeriksaan di kandang babi, pihak Keswan juga melakukan pemeriksaan terhadap dugaan PMK di sekitar.
Pria asal Banjar Pande, Kelurahan Cempaga Bangli ini pihaknya sudah melakukan pemeriksaan.
"Dari keterangan pemilik dan penelusuran teman-teman, ada beberapa yang mengarah ke PMK.
Sapi yang ditemukan PMK berdasarkan gejala klinisnya, sudah diobati dengan memberi antibiotik. Begitupun vaksinasi juga sudah mulai bergerak di wilayah desa sekitar," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/puluhan-babi-mati-di-banjar-penarukan-bangli-bab-berdarah.jpg)