Berita Bangli
Harga Babi Turun, Sang Putu Adil: Masih Cenderung Normal Untuk Pasar Bali
akibat merebaknya Penyakit Kuku dan Mulut, terjadi penurunan harga babi di Bangli Bali
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Sejak dua pekan terakhir harga babi hidup mengalami penurunan.
Terlebih lagi, kran pengiriman babi ke luar pulau Bali hingga kini masih dilockdown, akibat merebaknya Penyakit Kuku dan Mulut (PMK).
Ketua Gupbi Bangli Sang Putu Adil membenarkan soal penurunan harga babi ini.
Kata dia, sebelumnya saat Galungan lalu, harga babi sempat menyentuh angka Rp 40 ribu hingga Rp 41 ribu per kilo.
Baca juga: Cegah Penyebaran PMK, Disiapkan Karpet Disinfektan di Bandara Ngurah Rai
Namun sejak dua pekan terakhir, harga babi mengalami penurunan.
"Saat ini harga babi per kilogramnya Rp 39 ribu. Belum ada tanda-tanda turun lagi ke Rp 38 ribu," ucapnya dikonfirmasi Jumat 5 Agustus 2022.
Menurut Sang Putu Adil, turunnya harga babi ini cenderung wajar, akibat permintaan yang mulai berkurang.
Kendati demikian, pihaknya tetap bersyukur karena dengan harga Rp 39 ribu per kilo, ia masih mendapati untung.
"Harga itu (Rp 39 ribu per kilo) masih normal. Itung-itungannya kami masih sedikit mendapat provit, paling per ekornya mendapat Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, tergantung dari manajemennya. Karena break even point (BEP) kami ada di kisaran harga Rp 37 ribu sampai Rp 38 ribu,"
Peternak asal Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Bangli ini menambahkan, harga Rp 39 ribu per kilo cenderung normal untuk pasar Bali.
Sebaliknya jika pengiriman ke luar pulau, harga tersebut tergolong rendah.
"Setahu saya, kalau untuk pengiriman babi dari Bangli keluar Bali belum ada. Ini untuk menindaklanjuti merebaknya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)," tandasnya. (*).
Kumpulan Artikel Bangli