Berita Tabanan

Harga Telur Melambung, Peternak Kurangi Populasi Ayam Karena Merugi Puluhan Juta Setiap Bulan

Ketua Koordinator Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Layer Bali, Kabupaten Tabanan, Gede Darma Susila menyatakan, bahwa harga telur memang

Tribun Bali
Pedagang telur Ni Kadek Sri Asih, 37 tahun, asal Mengwi Badung, saat menjajakan dagangan telur ayam miliknya di Jalan Pulau Batam Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, Rabu 24 Agustus 2022. (TB/Ardhiangga Ismayana). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN- Ketua Koordinator Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Layer Bali, Kabupaten Tabanan, Gede Darma Susila menyatakan, bahwa harga telur memang mengalami kenaikan.

Hal itu, dilakukan untuk mulai menyesuaikan dengan harga pakan atau biaya produksi ternak.

Sebelumya, harga pakan naik, sedangkan harga telur tetap di tempat. Karena itu, peternak banyak yang mulai gulung tikar. Ketika tidak gulung tikar maka solusi peternak ialah melakukan pengurangan populasi ternak. Akibatnya, dari 100 persen populasi ayam ternak milik peternak, kini hanya tersisa 40 persen.

“Kalau dulu untuk Tabanan, populasi normal 3 juta berangsur-angsur karena krisis dan pandemi sisa 40 persen. Kondisi sekarang harga telur menyesuaikan harga pakan,” katanya, Rabu 24 Agustus 2022.

Ia menjelaskan, bahwa dari 100 persen pakan ternak, sekitar 80 persen ialah berasal dari import. Dari yang dulunya konsentrat seharga Rp 350 ribu, sempat menjadi Rp 500 ribu. Dan saat ini terjadi penurunan pun hanya Rp 10 ribu turun dan menjadi Rp 490 ribu. Kemudian campuran pakan lain seperti jagung, juga mengalami kenaikan yang awalnya Rp

3500 naik menjadi Rp 6 ribu, dan sudah mulai menurun dikisaran Rp 4500-5000. Sedangkan untuk dedak stabil di harga Rp 3500 hingga 3800.

“Artinya memang pada bahan baku pakan naik. Ada penurunan pun, tapi turun sedikit. Akhirnya, peternak memilih solusi populasi berkurang. Dari berkurang populasi maka harga telur naik. Karena sedikit ayam di peternak. Peternak yang bertahan, hanya 40 persen dari total populasi sebelumnya. Misalnya sebelumnya punya 10 ribu ayam, sekarang hanya tinggal 4000-an,” jelasnya.

Menurut dia, kenaikan pakan itu terjadi sejak awal pandemi. Awal-awal Pandemi 2020, mengalami gangguan distribusi, ditambah lagi setelah perang Ukraina. Sehingga ada kekurangan bahan baku yang masuk ke Indonesia. Inilah yang kemudian membuat peternak kesusahan dalam mempertahankan populasi ternaknya. Sehingga saat ini, di tingkat peternak harga telur kandang per krat isi 30 Rp 49 ribu per krat. Tingkat pasar menyesuaikan lagi. Nah terus sekarang kondisinya, peternak tidak bisa serta merta mengembalikan populasi.

“Karena memang pada saat awal pandemi hingga beberapa waktu lalu itu, kerugian per 1000 ekor itu sekitar Rp 200 ribu per hari. Jadi ditotal saja, per 1000 ekor peternak itu rugi sekitar Rp 6 juta per bulan. Makanya solusinya untuk bertahan itu bukan lagi dari kredit untuk sekarang. Peternak tidak berani. Makanya mengurangi populasi adalah solusinya,” paparnya.

Ia menambahkan, bahwa saat ini peternak itu sedang berusaha mengembalikan beban bunga yang sebelumnya. Karena penanganan telur itu berbeda dengan penanganan pemerintah untuk pengelolaan beras, misalnya saja. Atau dengan kata lain, biasanya pemerintah melakukan operasi pasar. Ia mencontohkan, bahwa saat petani mengalami surplus dalam panen padi, atau panen raya. Maka kelebihan panen itu akan diserap Bulog dan Dolog. Sehingga ketika stok padi berkurang, maka bisa didistribusikan sehingga harga stabil. Sedangkan perlakuan terhadap Telur tidak bisa. Sebab, telur tidak dapat disimpan lama.

“Maka dari itu harga telur jatuh, karena tidak bisa tahan lama. Kalau ada operasi pasar di sini siapa yang mengambil. Semisal diambil peternak lain juga sama saja. Jadi cuma muter muter gitu saja. Apalagi, telur diimport, maka itu yang juga membunuh peternak. Maka solusinya ialah pengurangan populasi dan kondisinya maka telur saat ini naik,” bebernya. (ang).

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved