Berita Klungkung

Klungkung Kembangkan Pertanian Ramah Lingkungan, Hasil Berasnya Akan Disalurkan ke Rumah Sakit

Klungkung Kembangkan Pertanian Ramah Lingkungan, Hasil Berasnya Akan Disalurkan ke Rumah Sakit

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Harun Ar Rasyid
istimewa
Pemkab Klungkung saat panen perdana pertanian ramah lingkungan di Subak Selisihan Kangin, Desa Selisihan Kecamatan/Kabupaten Klungkung. ist 

SEMARAPURA,TRIBUNBALI- Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung tengah berupaya mengembangkan pertanian organik.

Misalnya dengan penanaman padi ramah lingkungan jenis Inpari 32, yang telah diuji coba di Subak Selisihan Kangin, Desa Selisihan Kecamatan/Kabupaten Klungkung.

Kepala Dinas Pertanian Ida Bagus Juanida mengatakan, Inpari 32 ditanam di lahan pertanian seluas sekitar 11 hektar di Subak Selisihan Kangin.

Menurutnya produktivitas hasil panen padi ramah lingkungan tersebut mencapai sebesar 7,5 ton/hektar.

Pemkab Klungkung saat panen perdana pertanian ramah lingkungan di Subak Selisihan Kangin, Desa Selisihan Kecamatan/Kabupaten Klungkung. ist
Pemkab Klungkung saat panen perdana pertanian ramah lingkungan di Subak Selisihan Kangin, Desa Selisihan Kecamatan/Kabupaten Klungkung. ist (istimewa)

"Padi ini ramah lingkungan karena dalam prosesnya tidak menggunakan pestisida. Selain itu dalam penanamannya menggunakan teknologi mesin rice planter, sehingga hasilnya menjadi lebih banyak,"Ida Bagus Juanida, Selasa (24/8/2022).

Rencananya hasil pertanian ramah lingkungan yang tergolong beras sehat ini akan disalurkan ke rumah sakit.

"Setelah dipanen dan diproses menjadi beras, rencananya akan disalurkan ke rumah sakit karena tergolong beras sehat," ujarnya

Sementara Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta menjelaskan, dalam rangka menuju pertanian ramah lingkungan, pihaknya akan membagikan pupuk organik produksi TOSS Senter Karangdadi , Kusamba secara cuma- cuma kepada para petani yang mau mengembangkan pertanian ramah lingkungan.

"Upaya mewujudkan area pertanian ramah lingkungan terus dilakukan. Prosesnya memang tidak bisa cepat, minimal tiga tahun dengan didukung teknologi pertanian. Dengan begitu diharapkan harga pangan organik tidak mahal dan begitu pula dengan harga kebutuhan pokok bisa standar," ungkap Suwirta.

Selain itu menurutnya proses regenerasi petani juga harus berjalan, para petani harus bisa mengarahkan anaknya turun bertani dengan dibantu oleh para penyuluh pertanian.(mit)

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved