Berita Bali

Siswa Pengidap HIV Di-bully, KPPAD Bali Turun Tangan Atasi Pelaku Perundungan

seorang anak sekolah dasar yang hidup dalam kondisi HIV di-bully oleh seorang temannya, jumlah penderita HIV (ODHIV) di Bali ada 26.056 orang

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali, I Kadek Ariasa saat mendatangi sekolah anak pengidap HIV di Gianyar, Bali, Jumat 2 September 2022 - Siswa Pengidap HIV Di-bully, KPPAD Bali Turun Tangan Atasi Pelaku Perundungan 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali, I Kadek Ariasa, yang membidangi pendidikan selalu memantau kondisi RP, seorang anak sekolah dasar di Kecamatan/Kabupaten Gianyar yang hidup dalam kondisi HIV.

Kedua orangtuanya telah meninggal dunia. Saat ini ia hanya hidup bersama kakeknya.

Komisioner KPPAD Bali, Kadek Ariasa mengatakan, dirinya mendatangi sekolah anak tersebut bersekolah, Jumat 2 September 2022.

Hal itu lantaran dirinya mendapatkan informasi anak tersebut di-bully oleh seorang temannya.

Baca juga: KPPAD Bali Turun Tangan, Anak Pengidap HIV dan Kini Yatim Piatu Malah Di-bully Teman

Pihak sekolah mengatakan, anak pembully tersebut memang tergolong anak jahil.

"Info dari guru, anaknya atau si tukang bully ini memang agak jahil,” ujar Ariasa.

Pria pemilik Museum Alon di Desa Mas, Ubud itu menegaskan, tindakan bullying atau perundungan tidak bisa dibiarkan.

Sebab akan membekas pada psikologis anak.

Karena itu, ia pun datang ke sekolah memberikan pemahaman pada anak perundung tersebut.

“Kami sudah ingatkan bahwa mem-bully itu ada risiko hukum dan itu tidak baik untuk diri sendiri atau teman lainnya,” ujarnya.

Ariasa pun bersyukur. Sebab si perundung telah paham, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

“Dia janji tidak akan mengulangi perbuatannya, baik pada RP maupun teman-temannya yang lain,” kata Ariasa.

Ariasa pun mengungkapkan kondisi RP saat ini. Kata dia, kondisi mentalnya saat ini cukup labil, karena faktor sakit dan minum obat secara berkala.

"Faktor mental psikologis berdampak. Sebab anak itu hidup tanpa ayah ibu, sehingga berpengaruh pada emosinya,” jelasnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved