Berita Bali

Penyebab Stunting Tinggi di Karangasem, Salah Satunya Buang Air Besar Sembarangan

Penyebab Stunting Tinggi di Karangasem, Salah Satunya Buang Air Besar Besar Sembarangan

istimewa
POSTER STUNTING 

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Karangasem merupakan Kabupaten penyumbang angka stunting tertinggi di Bali. Bahkan kasus stunting tertinggi di Karangasem sudah terjadi di Tahun sebelumnya yakni 2021.

Ketika diwawancarai, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Bali, Dr. A.A Sagung Mas Dwipayani mengatakan sampi saat ini dari hasil studi status gizi (SSG) Indonesia Tahun 2021 angka stunting yang tertinggi di Bali adalah di Karangasem yaitu 22,9 persen.

“WHO mengizinkan kurang dari 20 persen. Penyebabnya sampai saat ini multifaktor itu salah satu penyebabnya adalah adanya pola asuh kemudian adanya akses air atau sanitasi, kemudian pola makan yang kurang tepat tidak gizi seimbang,” jelasnya pada, Senin 12 September 2022.

POSTER STUNTING
POSTER STUNTING (istimewa)

Lebih lanjutnya ia mengatakan, dalam hal ini pemerintah telah berupaya tidak hanya dengan komunitas tetapi juga dengan swasta, Penggerak PKK, kemudian dengan lintas sektor yang lainnya untuk dapat bersama-sama mengatasi stunting tahun ini.

Ia juga mengatakan tidak selalu Kabupaten Karangasem yang menjadi penyumbang angka stunting tinggi di Bali.

“Kita harus melihat dari SSG terakhir itu kenapa mesti Karangasem hal ini tidak dilihat bahwasanya kenapa karangasem? Tetapi karena ada penelitian yang baru dilakukan menggunakan data Riskesdas 2018 yang dilakukan adanya perbedaan prevalensi kasus stunting antara yang pedesaan dan perkotaan,” tambahnya.

Dari penelitian tersebut ternyata masyarakat yang berada dipedesaan jauh lebih tinggi terkena stunting.

Hal tersebut disebabkan karena kurangnya pola asuh dari keluarga, kemudian kurangnya asupan yang beraneka ragam, juga masih adanya open defecation free.

Beberapa hari yang lalu juga sudah keluar salah satu dokumen yang menyatakan bahwa stop buang air besar sembarangan (BABS) di Kabupaten Karangasem khusunya di Kecamatan Kubu yang dilakukan setelah penelitian.

“Jadi mereka semua sudah siap tidak BABS dan semoga segera dapat mewujudkan Karangasem tidak ada kasus new stunting lagi. Nantinya surveilance gizi akan melakukan kontrol setiap bulan. Jadi disana akan dilakukan mapping, ketika bulan berjalan dan anak itu stunting tetapi dibulan berikutnya dia tidak stunting. Jadi tidak bisa memprediksi bahwa daerah ini penyebab tertinggi, karena itu sangat dinamis,” imbuhnya.

Rata-rata angka stunting di Bali sejumlah 10,9 persen artinya kalau dilihat diantara 10 balita masih ada kasus 1 stunting di Provinsi Bali. Sementara terkait hasil penelitian yang dilakukan oleh, Universitas Griffith, Universitas Nasional Australia (ANU) terkait stunting dan infeksi parasit, Sagung mengatakan penelitian tersebut cukup menarik karena di Kabupaten Karangasem, disadari salah satu tantangannya adalah akses air.

“Tetapi pemerintah telah mengupayakan secara signifikan dan komprehensif bagaimana mengurangi permasalahan ini. Tentu saja permaslaahannya tidak hanya dikeluarga. Karena keluarga kita sebut dengan BABS (Buang Air Besar Sembarangan) stop buang air besar sembarangan itu satu keluarga bisa jambannya berbagi,” ujarnya.

Penelitian ini dilakukan di Sekolah dan ini cukup menarik, karena terjadi permasalahan seperti siswa-siswa yang di Sekolahnya sudah tersedia jamban, tetapi akses air untuk membersihkan tangan dan membersihkan bagian tubuh lainnya setelah BAB masih kurang. Sementara diketahui, kasus parasit atau kecacingan tidak hanya di Karangasem.

Tetapi juga secara prevalensi 10 persen dari penelitian yang dilakukan Kemenkes memang ada dan yang telah dilakukan adalah memberikan Albendazole setiap tahun satu kali untuk usia 1-12 tahun.

“Upayanya sudah banyak dilakukan hal ini juga untuk mencegah atau mengurangi resiko stunting. Karena yang kita tahu resiko stunting itu terjadi karena adanya infeksi berulang sehingga serapan nutrisinya menjadi berkurang. Mudah-mudahan survey dalam status gizi Indonesia ini Bali kembali terendah dan kita semua di Kabupaten/Kota Bali rendah dari stunting dan juga berkurang untuk segala infeksi penyakit untuk balita,” tutupnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved