Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kapan Pertama Kali Pawai Ogoh-ogoh Digelar di Bali ?

Kapan Pertama Kali Pawai Ogoh-ogoh Digelar di Bali ?Ogoh-ogoh Bali merupakan sebuah karya seni patung yang diarak

Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN BALI/NOVIANA WINDRI
Foto: ogoh-ogoh 'Subrada Larung' menghabiskan kerupuk udang sebanyak 25 kilogram 

TRIBUN-BALI.COM – Ogoh-ogoh Bali merupakan sebuah karya seni patung yang diarak pada pawai malam pengerupukan menuju Hari Raya Nyepi.

Biasanya, Ogoh-ogoh digambarkan dengan sebuah tokoh karakter raksasa.

Saat malam pengerupukan tiba, ogoh-ogoh dibawa oleh sekelompok masyarakat desa atau banjar, kemudian mengelilingi desa menjelang malam sebelum Hari Raya Nyepi.

Pengarakan ogoh-ogoh tersebut adalah prosesi Tawur Kesanga atau ‘Nyomyang Bhuta’.

Ogoh-ogoh sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Artinya, meskipun pawai ogoh-ogoh ditiadakan, perayaan Hari Raya Nyepi tetap dapat berjalan.

Orang Bali merasa perayaan Hari Raya Nyepi kurang lengkap jika tidak diawali dengan pawai ogoh-ogoh, sehingga dilakukan setiap tahun.

Salah satu ogoh-ogoh sekaa teruna di kawasan Denpasar Utara
Salah satu ogoh-ogoh sekaa teruna di kawasan Denpasar Utara (Putu Supartika)

Pawai ogoh-ogoh telah menjadi wadah berekspresi, khususnya bagi para yowana di Bali.

Ada yang mengangkat kisah mitologis untuk kemudian dituangkan ke dalam wujud ogoh-ogoh, juga mengangkat tema sehari-hari yang kerap digunakan sebagai ekspresi kritik terhadap fenomena sosial.

Selain sebagai ajang berekspresi, pembuatan ogoh-ogoh di masing-masing banjar juga menjadi wujud kebersamaan; mulai dari proses pembuatan hingga pementasan saat malam pengerupukan.

Jika dilihat dari latar sejarah, ogoh-ogoh pertama di Bali muncul sekitar tahun 1980-an.

Sejak saat itu, orang Hindu Bali mengusung ogoh-ogoh dengan cara mengelilingi desa dan bertujuan untuk mengusir bhuta kala atau aura jahat.

Jurnal Prabangkara (Jurnal Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar) yang mengutip buku Panduan Ogoh-ogoh oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar (2001) disebutkan bahwa ogoh-ogoh merupakan tradisi baru yang berakar pada tradisi masa lalu.

Pawai ogoh-ogoh di Bali disebut-sebut sebagai puapan rasa suka-cita setelah Presiden Soeharto menetapkan hari Raya Nyepi sebagai Hari Libur Nasional sejak tahun 1983.

Perlombaan ogoh-ogoh di Pusat Kota Semarapura
Perlombaan ogoh-ogoh di Pusat Kota Semarapura (Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa)

Sejak itu pula, Gubernur Bali Ida Bagus Mantra mengimbau masyarakat untuk membuat ogoh-ogoh dan diarak saat hari pengerupukan (sehari sebelum Nyepi).

Versi lain menyebutkan bahwa ogoh-ogoh telah dikenal sejak zaman Dalem Balingkang, yang saat itu dipakai ketika upacara Pitra Yadnya.

Lalu, ada pula yang berpendapat bahwa ogoh-ogoh terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat Karangasem.(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved