Kapan Pertama Kali Pawai Ogoh-ogoh Digelar di Bali ?
Kapan Pertama Kali Pawai Ogoh-ogoh Digelar di Bali ?Ogoh-ogoh Bali merupakan sebuah karya seni patung yang diarak
TRIBUN-BALI.COM – Ogoh-ogoh Bali merupakan sebuah karya seni patung yang diarak pada pawai malam pengerupukan menuju Hari Raya Nyepi.
Biasanya, Ogoh-ogoh digambarkan dengan sebuah tokoh karakter raksasa.
Saat malam pengerupukan tiba, ogoh-ogoh dibawa oleh sekelompok masyarakat desa atau banjar, kemudian mengelilingi desa menjelang malam sebelum Hari Raya Nyepi.
Pengarakan ogoh-ogoh tersebut adalah prosesi Tawur Kesanga atau ‘Nyomyang Bhuta’.
Ogoh-ogoh sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Artinya, meskipun pawai ogoh-ogoh ditiadakan, perayaan Hari Raya Nyepi tetap dapat berjalan.
Orang Bali merasa perayaan Hari Raya Nyepi kurang lengkap jika tidak diawali dengan pawai ogoh-ogoh, sehingga dilakukan setiap tahun.
Pawai ogoh-ogoh telah menjadi wadah berekspresi, khususnya bagi para yowana di Bali.
Ada yang mengangkat kisah mitologis untuk kemudian dituangkan ke dalam wujud ogoh-ogoh, juga mengangkat tema sehari-hari yang kerap digunakan sebagai ekspresi kritik terhadap fenomena sosial.
Selain sebagai ajang berekspresi, pembuatan ogoh-ogoh di masing-masing banjar juga menjadi wujud kebersamaan; mulai dari proses pembuatan hingga pementasan saat malam pengerupukan.
Jika dilihat dari latar sejarah, ogoh-ogoh pertama di Bali muncul sekitar tahun 1980-an.
Sejak saat itu, orang Hindu Bali mengusung ogoh-ogoh dengan cara mengelilingi desa dan bertujuan untuk mengusir bhuta kala atau aura jahat.
Jurnal Prabangkara (Jurnal Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar) yang mengutip buku Panduan Ogoh-ogoh oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar (2001) disebutkan bahwa ogoh-ogoh merupakan tradisi baru yang berakar pada tradisi masa lalu.
Pawai ogoh-ogoh di Bali disebut-sebut sebagai puapan rasa suka-cita setelah Presiden Soeharto menetapkan hari Raya Nyepi sebagai Hari Libur Nasional sejak tahun 1983.
Sejak itu pula, Gubernur Bali Ida Bagus Mantra mengimbau masyarakat untuk membuat ogoh-ogoh dan diarak saat hari pengerupukan (sehari sebelum Nyepi).
Versi lain menyebutkan bahwa ogoh-ogoh telah dikenal sejak zaman Dalem Balingkang, yang saat itu dipakai ketika upacara Pitra Yadnya.
Lalu, ada pula yang berpendapat bahwa ogoh-ogoh terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat Karangasem.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ogoh-ogoh-subrada-larung-menghabiskan-kerupuk-udang-sebanyak-25-kilogram.jpg)