Peringatan 20 Tahun Bom Bali
Beri Sambutan Doa Bersama Peringatan Bom Bali, Kadinsos Bali Sebut Terorisme Terparah di Indonesia
Beri Sambutan Doa Bersama Peringatan Bom Bali, Kadinsos Bali Sisipkan Nangun Sat Kerthi Loka Bali
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Harun Ar Rasyid
TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Peristiwa 20 tahun lalu dimana terdapat tragedi Bom Bali merupakan kejadian yang tentunya mengerikan bagi peradaban di Indonesia dan Internasional.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kadinsos P3A) Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra mewakili Gubernur Bali Wayan Koster saat agenda doa bersama di Ground Zero Kuta mengatakan peristiwa tersebut menjadi terorisme terparah di Indonesia yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, harta benda dan dampak kesehatan mental.
“Tindak pidana terorisme sebagai kejahatan serius dan luar biasa terhadap kemanusiaan, keamanan negara dan kedaulatan negara, oleh karena itu pencegahan dan pemberantasan terorisme merupakan agenda serius bagi pemerintah Indonesia untuk melindungi segenap bangsa dan setiap orang,” sebutnya pada, Rabu 12 Oktober 2022.

Ia mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan doa bersama ini dan melalui acara ini sebagai momentum kita untuk bangkit serta mengumandangkan kedamaian. Sejalan dengan upaya tersebut Pemerintah Provinsi Bali dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Dan Provinsi Bali sebagai daerah tujuan wisata tentu saja ditopang sumber daya manusia (SDM) serta sarana dan prasara yang memadai untuk menjaga keamanan daerah dan krama Bali serta keamanan wisatawan maka Pemprov Bali telah menerbitkan kebijakan untuk hal tersebut.
“Diharapkan peran serta seluruh komponen pemerintah, aparat hukum dan desa adat bersinergi menjaga keamanan dan ketertiban di Bali. Seperti kita ketahui bersama bahwa Bali dipilih menjadi penyelenggaraan berbagai event internasion yang pada saat ini juga akan G20,” sambungnya.
Sektor pariwisata merupakan salah satu andalan dan primadona dalam perekonomian maupun pembangunan Bali. Untuk itu Bali sangat membutuhkan situasi yang aman tertib dan kondusif. Masyarakat dan Pemerintah di Bali sadar bahwa keamanan ketentraman sebuah sistem bukan hanya monopoli dominan satu pihak melainkan sinergitas peran seluruh elemen.
“Momentum pada hari ini di monumen perdamaian dengan 1 misi kita, dari kita oleh kita untuk kita untuk perdamaian itu. Maka perdamaian, bukan kita dapatkan dr org lain, bukan dtg dari luar tetapi ada pada diri kita sendiri,” tutupnya.
KILAS BALIK
Pengeboman Bom Bali I adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002.
Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan.
Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005.
Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut.
Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50–150 kg.
Tragedi bom Bali I pada 12 Oktober 2002 merupakan sejarah kelam bagi masyarakat Bali. Pulau Dewata porak-poranda dalam sekejap diguncang oleh 1 ton bahan peledak yang dengan sengaja diledakkan oleh kelompok teroris.
Peristiwa ini pun dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.
Untuk mengenang tragedi ini dibangun Monumen Bom Bali atau Ground Zero di Legian, dan setiap digelar peringatan Bom Bali I.