Berita Buleleng
Kurangi Import, Dinas Pertanian Buleleng Kembangkan Bawang Putih di Lahan Seluas 50 Hektar
Kurangi Import, Dinas Pertanian Buleleng Kembangkan Bawang Putih di Lahan Seluas 50 Hektar
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Dinas Pertanian (Distan) Buleleng mengembangkan bawang putih di lahan seluas 50 hektar. Pengembangan ini dilakukan atas intruksi pemerintah pusat, agar Indonesia tidak tergantung dengan bawang putih import.
Kabid Hortikultura Distan Buleleng, I Gede Subudi dikomfirmasi Rabu (26/10) mengatakan, lokasi penanaman bawang putih varietas lumbung hijau ini dilakukan dibeberapa desa. Diantaranya Desa Tambakan Kecamatan Kubutambahan seluas 25 hektar, Desa Kayuputih Kecamatan Banjar 15 hektar, Desa Gesing Kecamatan Banjar lima hektar, serta di Desa Gobleg Kecamatan Banjar lima hektar.
Bibit bawang putih diberikan kepada beberapa subak dan kelompok tani melalui bantuan APBN. Selanjutnya petani diminta untuk melakukan penanaman dengan waktu yang berbeda-beda, agar pasokan bawang putih selalu tersedia dan untuk mempermudah pemasaran.
Subudi menyebut, sejauh ini memang jumlah petani yang menanam bawang putih di Buleleng hanya sedikit. Ini karena penanaman tidak dapat dilakukan disembarang tempat. Lokasi yang cocok untuk ditanami bawang putih hanya di daerah dataran tinggi, kisaran 600 meter diatas permukaan laut. Selain itu ongkos produksi juga lebih mahal ketimbang harga jual, ini karena persaingan harga dengan bawang putih import.
"Bawang putih lokal kita dikalahkan dengan bawang putih import yang didatangkan dari Cina. Harga import lebih murah dan ukurannya besar-besar. Di Indonesia memang 85 persen masih import bawang putih. Jadi pemerintah pusat sedang berupaya mengajak petani agar bersedia menanam bawang putih, untuk mengurangi import," terangnya.
Selain memberikan bantuan bibit, petani juga diberikan bantuan pupuk serta sarana produksi. Distan Buleleng melalui petugas di kecamatab, memberikan pendampingan rutin kepada petani, terkait cara penanaman, agar bibit yang ditanam menghasilkan umbi yang baik.
"Kami pernah coba tanam pakai bibit import, tapi ternyata memang tidak cocok. Tetap tumbuh, tapi tidak berumbi. Jadi memang harus pakai varietas lokal. Kami berikan pendampingan agar bawang putih tumbuh dan menghasilkan umbi yang baik," ungkapnya.
Kini Desa Tambakan dan Desa Gesing telah memasuki musim panen. Untuk di Desa Tambakan, bawang putih rogol kering yang dihasilkan mencapai 8,12 ton per hektar. Sementara di Desa Gesing lebih banyak, mencapai 13,97 ton per hektar "Di Gesing hasilnya lebih besar, karena jarak tanamnya lebih rapat," ucap Subudi.
Subudi mengakui saat ini Buleleng belum bisa dikatakan mandiri dengan bawang putih. Sebab penanamannya belum bisa dilakukan sepanjang tahun. Sementara berdasarkan data dari Pemprov Bali, kebutuhan masyarakat dengan bawang putih mencapai 1,81 kilogram per orang per tahun.
"Di Bali yang tanam bawang putih hanya Buleleng, Bangli, Tabanan, dan Karangasem yang juga mulai mencoba menanam. Dari lima desa yang dapat bantuan bibit ini, setelah dipanen hasilnya habis terjual di sekitar desa itu saja," jelasnya.
Untuk itu melalui pemberian bantuan ini, minat petani untuk menanam bawang putih kembali tumbuh, agar keran import dapat ditutup karena pasokan bawang putih lokal telah tersedia. "Harapannya dari bantuan ini, petani bisa menyisihkan beberapa bawang putihnya untuk ditanam atau dijadikan bibit kembali. Sehingga penanaman dapat terus dilakukan," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Pengembangan-bawang-putih-di-wilayah-Desa-Gobleg.jpg)