Episode Ismail Bolong: Ferdy Sambo Tenteng Buku Hitam di PN Jaksel, Sinyalemen ICW Kian Kuat?
Episode Ismail Bolong: Ferdy Sambo Tenteng Buku Hitam di PN Jaksel, Sinyalemen ICW Kian Kuat?
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Kehadiran Ferdy Sambo pada sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J dikaitkan dengan kasus dugaan suap yang dilakukan Ismail Bolong.
Ferdy Sambo yang juga mantan Kadiv Propam Polri itu hadir di PN Jakarta Selatan (Jaksel) sebagai terdakwa sembari memegang buku hitam yang hingga kini masih menjadi misteri.
Sidang Ferdy Sambo digelar di PN Jaksel, Selasa (8/11/2022).
Baca juga: Bharada E Kembali Jalani Sidang Kasus Brigadir J Hari Ini Dengan 12 Saksi Termasuk ART Ferdy Sambo
Sidang ini beragendakan pemeriksaan saksi untuk terdakwa Ferdy Sambo dan istrinya Putri Candrawathi.
Pantauan Tribunnews.com, Ferdy Sambo memasuki ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sekira pukul 10.20 WIB.
Ferdy Sambo mengenakan kemeja tangan panjang berwarna putih.
Menariknya, suami dari Putri Candrawathi itu lagi-lagi membawa buku hitam yang masih menjadi misteri.
Baca juga: BIN Bantah Pasok Informasi Intelijen ke Pengacara Brigadir J Soal Kasus Ferdy Sambo: Hanya Presiden
Diketahui Indonesia Police Watch (IPW) sempat menerawang bahwa buku hitam itu berisi soal kasus tambang ilegal di Kalimantan.
Belakangan ramai soal video Ismail Bolong, mantan anggota Polri yang mengaku memberikan uang setoran tambang ilegal ke Kabareskrim.
Tapi kemudian berbalik 180 derajat, Ismail Bolong membantah beri uang Kabareskrim. Dia juga minta maaf dan mwngatakan tak kenal Kabareskrim.
Video itu dibuat karena diintimidasi oleh Hendra Kurniawan.
Diduga Terkait Tambang
Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso mengungkap isi buku hitam milik mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo.
Hal itu diungkapkan Sugeng dalam sebuah diskusi bertajuk "Mengungkap Persekongkolan Geng Tambang di Polisi Dengan Oligarki Tambang" di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (3/11/2022).
Awalnya, Sugeng berkelakar bahwa berdasarkan terawangannya ada situasi yang cukup rumit untuk membongkar praktik tambang ilegal.