Berita Denpasar
Pelinggih Ratu Niang Sakti di Denpasar, Terbuka Untuk Seluruh Umat Nunas Kesehatan Hingga Rezeki
Pelinggih Ratu Niang Sakti, Terbuka Untuk Seluruh Umat Nunas Kesehatan, Rejeki, Hingga Jodoh, Semakin Ramai Berkat Internet, Harap Bisa Dipugar
Penulis: Putu Yunia Andriyani | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jika melewati Jalan Kumbakarna, tepatnya sebelah barat jembatan Pasar Wangaya, Denpasar, Bali, terdapat pelinggih dengan sebuah patung berwarna putih.
Patung berwujud perempuan tua atau dalam Bali disebut juga dengan Niang ini disebut dengan Pelinggih Ratu Niang Sakti.
Pada saat hari raya Purnama, pelinggih ini sangat ramai dikunjungi pemedek.
Pemangku Pelinggih Ratu Niang Sakti, Anak Agung Ngurah Gede Agung alias Turah Belanda, kemudian menceritakan asal muasal pelinggih.
Baca juga: MISTIS! GOA Desa Pejaten Tabanan, Ditunggu Ratu Gede Barong Hingga Ratu Niang
Pada tahun 1998, Turah melaksanakan upacara memukur di kediamannya yang tidak jauh dari pelinggih.
Saat itu, ia bertemu seorang suci yang melewati Jalan Kumbakarna dan mengarahkannya untuk membuat rarapan di daerah tersebut.
Kepada kakak tertuanya, Turah Pong, ia lantas berucap apabila acara memukurnya sukses, Turah Belanda akan mendirikan Pelinggih Ratu Niang Sakti di lokasi ia menghaturkan rarapan.
“Acara memukur saya sukses dan saya membuat peinggih ini pada 18 Oktober 1998 untuk membayar sesangian saya.Patungnya dibuat dari pengrajin di daerah Goa Gajah dengan kerangka atau pelet yang membentuk seperti saat ini,” kata Turah.
Turah menuturkan, patung Ratu Niang ini sangat cantik layaknya wanita Belanda yang persis seperti ibu kandungnya.
Biasanya, para pemedek yang datang sembahyang ke sini untuk memohon dibantu dalam bidang pekerjaan.
Mulai dari melamar menjadi polisi, PNS, ingin keluar negeri, dilancarkan usahanya, dan masih banyak lagi.
Tidak sedikit juga yang datang untuk dibantu agar dimudahkan dalam mencari jodoh atau ingin mempunyai keturunan.
Ada juga pemedek yang memohon kesehatan dan apabila sembuh beberapa dari mereka biasanya mengabdi menjadi pengayah di Pelinggih Ratu Niang.
Untuk Banten atau sarana persembahyangan tidak ada standar khususnya.
Turah mengatakan, bahkan dengan canang pun pemedek bisa melakukan persembahyangan asalkan disertai ketulusan dan keyakinan.