Sponsored Content
Webinar Kajian Sistem Ekonomi Hindu Indonesia Kerja sama Unmas Dwnpasae dan PHDI Pusat
Webinar Kajian Sistem Ekonomi Hindu Indonesia Kerja sama Unmas Dwnpasae dan PHDI Pusat
TRIBUN-BALI.COM - Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar (Dr. Drs. I Made Sukamerta, M.Pd) menyatakan terima kasih yang mendalam atas terjalainnya kerjsama dengan PHDI Pusat pada sambutan selamat datang kepada peserta Webinar Nasional Uji Publik Naskah Kajian Sabha Walaka tentang Sistem Ekonomi Hindu Indonesia (Dharmanomic).
Webinar dilaksanakan di Aula Ghanesha Universitas Mahasaraswati. “Unmas Denpasar sangat berterima kasih kepada PHDI Pusat yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan Webinar Nasional Uji Publik Kajian Sabha Walaka tentang Sistem Ekonomi Hindu Indonesia atau Dharmanomic.
Webinar ini bertujuan untuk menyerapa sebanyak mungkin masukan-masukan umar Hindu dan pakar ekonomi”. Lebih lanjut Rektor Unmas Denpasar Denpasar, Dr. Drs. I Made Sukamerta, M.Pd; menjelaskan di UNMAS DENPASAR ada 21 program studi (prodi) salah satunmya adalah Ekonomi dan Bisnis.
UNMAS DENPASAR juga memiliki Magister Manajemen. Adanya Weibinar Sistem EKonomi Hindu Indonesia menunjukkan kesungguhan UNMAS DENPASAR dalam upaya membangun kemandirian ekonomi Umat Hindu.
Dalam sambutannya Ketua Umum Pengurus Harian PHDI, Wisnu Bawa Tanaya menyampaikan apreasiasi yang tinggi kepada Rektor UNMAS DENPASAR dan Yayasan yang menaungi. Atas kimprahnya dalam Webinar Nasional ini. Ekonomi Umat harus dibangkitkan dengan memperhatikan kegiatan ekonomi tradsiional, misalnya pasar tradisional (tenten) dan tidak seluruhnya megikuti trens swalayan serba ada (mall) yang modern. Adanya WebinarUji Publik Hasil Kajian Walaka yang nantinya menjadi ranangan Bhisama atau Ketetpan PHDI tentang Sistem EKonomi indu Indonesia harus dapat memberi spirit pada bangkitnya ekonomi umat.
Pada Sambutannya Ketua Sabha Walaka I Ketut Puspa Adnyana menjelaskan bahwa setiap kajian-kajian yang dihasilkan harus melalui Uji Publik, agar umat Hindu sejak awal sudah mengetahui dan mempelajari naskah-naskah yang akan menjadi ranangan Bhisam atau Ketetapan PHDI. “Ada kebaruan yang dilakukan PHDI hasil Mahasabha XII dalam proses merumuskan ketetapan-ketetapan yang bertujuan pengaturan kepada Umat Hindu. Kebaruan itu berupa pelibatan peran serta masyarakat Hindu dalam memberikan masukan pada hasil-hasil kajian.
Sebagai presenter Nyoman Wiryanata menjelaskan mengenai dasar susatra yang melatabelakangi Sistem Ekonomi Hindu Idnonesa. Ia menyebut Dharmasya Moolam Arthah, yang diambil dari Pustaka Niti Sastra, arti harfiahnya “Ekonomi merupakan kekuatan bila diperoleh bedasarkan dharma”. Pada dasarnya Arta dikumpulkan untuk memenuhi kama (need), dan harus berlandaskan pada dharma.
Kepemilikan harta membuat seseorang sejahtera (jagadhita) dan karenanya dapat mencapai lokasangraha yang akhirnya moksa. Wiryanata lebih lanjut menjelaskan spiritualitas bahwa seorang pengusaha Hindu yang sukses juga sekaligus seorang dermawan. Ia menyitir SLoka dari Atharwa Veda “Setiap orang harus mencari arta dengan seratus tangannya dan mendermakannya dengan seribut tangan”.
Presenter kedua: KS. Arsana, sekretaris Tim Kerja, yang memperkenalkan Sisten Ekonomi Hindu Indonesia dengan sebutan Dharmanomik. Ia mengawali dengan 4 tahap kebutuhan mendasar manusia berdasarkan Teori Maslow, yang dikaitkan dengan tujuan hidup sesuai ajaran Hindu. Tujuan hidup menurut ajaran Hindu adalah kesejehateraan materi dan kebahagiaan rohani. Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma. Karenanya, penganut ajaran Hindu menekankan pentingnya keseimbangan hidup, seimbang antara memenuhi kebutuhan duniawi-material agar sejahtera dan memenuhi kebutuhan rohani-spiritual agar bahagia.
Ajaran Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma tersebut selanjutnya dijabarkan dalam konsepsi Catur Puruṣārtha yang berarti empat dasar dan tujuan hidup manusia ("four objects of human pursuit"), yang terdiri dari: Dharma, Artha, Kama, dan Mokhsa. Menurut ajaran Hindu, Dharma, Artha, Kāma, dan Mokhsa inilah yang menjadi motivator manusia berperilaku.
1. Dharma
"Dharma" adalah sebuah kata Sansekerta penting dalam literatur Veda yang memiliki arti sangat luas. Secara etimologi, kata Dharma berasal dari akar bahasa Sanskerta, yaitu "dhri," yang berarti "menopang." Arti lain yang terkait dengan istilah Dharma adalah "apa yang merupakan bagian integral dari sesuatu." Misalnya, Dharma gula adalah menjadi manis dan Dharma api menjadi panas. Dharma mengacu pada sifat asli atau karakter dari sesuatu atau seseorang. Dharma berarti juga kebenaran atau cara hidup yang benar.
Dalam kehidupan personal, Dharma menjadi landasan untuk kita memiliki tujuan hidup yang benar, berjuang melakukan hal yang benar, hidup beretika, dan menjadi bajik, menjadi Manusia Dharmika. Dalam kehidupan sosial, Dharma membimbing kita untuk tertib mematuhi hukum, menghargai orang lain, peduli pada sesama, dan rukun-harmonis dalam warna-warni perbedaan.
Dalam skala yang besar, dalam kehidupan semesta, Dharma mengacu pada hukum atau aturan kosmik yang menjaga alam semesta dari kekacauan. Dalam dimensi rohani-spiritual, Dharma menuntun dan menyadarkan kita akan hakikat ilahi diri kita sebagai Atman, Jiwa Agung nan Suci.
2. Artha
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Webinar-Kajian-Sistem-Ekonomi-Hindu-Indonesia-Kerjasama-Unmas-Dwnpasae-dan-PHDI-Pusat.jpg)