Maestro Drama Gong Meninggal

Mendiang Anak Agung Gde Raka Payadnya, Maestro Drama Gong di Mata Seniman Gianyar

Mendiang Anak Agung Gde Raka Payadnya memiliki andil besar dalam kesenian drama gong Bali, Gianyar khususnya. Begini sosoknya di mata seniman lain.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Lembu cemeng persembahan Puri Langon Ubud tiba di depan Bale Budaya, Gianyar, Rabu 14 Desember 2022 pukul 12.00 Wita. Mendiang Anak Agung Gde Raka Payadnya memiliki andil besar dalam kesenian drama gong Bali, Gianyar khususnya. Begini sosoknya di mata seniman lain. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Mendiang Anak Agung Gde Raka Payadnya memang memiliki andil besar dalam kesenian drama gong Bali, Gianyar pada khususnya.

Bahkan pada 16 Desember 2022 nanti, Gubernur Bali, I Wayan Koster akan memberikan penghargaan.

Dimana penghargaan itu akan berlangsung di Art Centre, Denpasar.

Dimana dalam pemberian penghargaan itu, juga akan dimeriahkan oleh pementasan drama gong. 

Hal tersebut dikatakan oleh Pembina Seni Drama Gong Gianyar, Anak Agung Gde Agung Kartika, saat ditemui di Gianyar, Rabu 14 Desember 2022. 

Kepada wartawan, Agung Kartika mengatakan, mendiang Agung Payadnya merupakan legenda drama gong.

Sebab karena beliau, kata Kartika, drama gong klasik menjadi terkenal, hingga sempat jaya pada tahun 1990an ke bawah. 

"Beliau legen untuk drama gong. Karena beliau lah drama gong terkenal. Yang awalnya drama klasik menjadi drama gong," ujarnya.

Karena hal tersebut, banyak seniman yang berpartisipasi dalam prosesi plebon mendiang.

Baca juga: Hari Ini Digelar Prosesi Mendak Lembu Cemeng sebagai Rangkaian Prosesi Pelebon Maestro Drama Gong

"Nanti di art center akan ada penghargaan oleh gubernur. Menurut kami, beliau adalah guru besar kami. Bahkan saya saat mewakili Gianyar, sering me dapatkan juara 1 karena bimbingan beliau," ujarnya. 

Diberitakan sebelumnya, Lembu cemeng persembahan Puri Langon Ubud tiba di depan Bale Budaya, Gianyar, Rabu 14 Desember 2022 pukul 12.00 Wita.

Lembu tersebut nantinya akan digunakan dalam prosesi plebon pengelingair Puri Abianbase, Anak Agung Gde Raka Payadnya, yang juga tokoh seni pertunjukkan klasik, drama gong.

Lembu itu merupakan persembahan dari Cokorda Ngurah Suyadnya alias Cok Wah.

Sebelum tiba di Bale Budaya Gianyar, lembu berwarna hitam tersebut dibuat di Puri Langon Ubud.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved