Maestro Drama Gong Meninggal
Mendiang Anak Agung Gde Raka Payadnya, Maestro Drama Gong di Mata Seniman Gianyar
Mendiang Anak Agung Gde Raka Payadnya memiliki andil besar dalam kesenian drama gong Bali, Gianyar khususnya. Begini sosoknya di mata seniman lain.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Kartika Viktriani
Yakni membutuhkan waktu tak lebih dari 10 hari. Diarsiteki langsung oleh Cok Wah.
Saat lembu rampung, lalu diangkut menggunakan truk.
Dan, ketika tiba di depan Bale Budaya Gianyar, langsung diturunkan dari atas truk, untuk diarak ke Puri Abianbase.
Baca juga: Cok Wah Puri Langon Ubud Beri Lembu Cemeng untuk Pelebon Maestro Drama Gong, Pantia: Ia Fans Berat
Jarak antara bale budaya dengan puri sekitar satu kilometer.
Dalam perjalanannya dari bale budaya ke puri, diiringi oleh gamelan gong suling dan seniman berkostum drama gong.
Masyarakat setempat pun ramai menyaksikan iring-iringan, meskipun cuaca saat itu panas menyengat.
Cok Wah saat ditemui pada acara itu mengatakan, sejatinya jika konsisten dibuat, lembu tersebut hanya membutuhkan waktu 10 hari. Namun demikian, pihaknya telah melakukan persiapan sejak sebulan.
"Tidak ada kendala dalam pembuatannya, semuanya berjalan seperti yang diinginkan sampai lembu tiba di bale budaya," ujar mantan anggota DPRD Gianyar itu.
Cok Wah mengatakan, ia mempersembahkan lembu tersebut untuk prosesi plebon mendiang Agung Raka Payadnya, karena memiliki kedekatan emosional.
Selain itu, ada juga keponakannya yang menikah ke sana.
"Tyang pelajari mendiang memang tokoh luar biasa bidang seni. Para seniman juga bergabung memberi suport pada kegiatan ini," ujarnya. (*)