Gempa Bali

Pasien RSUD Karangasem Dirawat di Lantai I, Dosen ITB Tanggapi Gempa Karangasem

Semua pasien RSUD Karangasem terpaksa dirawat di Lantai I, jumlah pasien yang dirawat di RSUD Karangasem sekitar 83 orang.

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
ful
Sejumlah pasien RSUD Karangasem kalang kabut, usai diguncang gempa bumi beberapa kali - Pasien RSUD Karangasem Dirawat di Lantai I, Dosen ITB Tanggapi Gempa Karangasem 

"Rata-rata keluarga pasien belum mau dipindah ke lantai atas. Mereka menginginkan pasien dirawat di Lantai I. Pasien serta keluarganya masih dihantui rasa takut serta khawatir. Nanti kita lihat kondisi," kata Komang Wirya.

Untuk diketahui, saat gempa menguncang Kabupaten Karangasem, pasien dan perawat di RSUD Karangasem berhamburan keluar.

Mereka kalang kabut menyelamatkan diri. Pasien sempat dirawat di luar dan selesar RSUD beberapa jam.

Setelah itu pasien kembali dirawat di sekitar Lantai I.

Sementara itu, Pengamat gempa, Dr Astyka Pamumpuni ST MT mengatakan, bangunan di Indonesia semestinya memperhatikan ketahananannya terhadap gempa bumi.

Bangunan tahan gempa biasanya terbuat dari bahan yang ringan atau bahan yang kuat.

“Bangunan di Indonesia mestinya harus bangunan yang tidak mudah rubuh ketika terjadi gempa. Bangunan yang dibuat dari bahan yang ringan atau bahan yang kuat harus menjadi bangunan yang kita budayakan,” jelas Astyka saat dihubungi Tribun Bali, Rabu 14 Desember 2022.

Astyka yang juga menjadi Dosen Prodi Teknik Geologi di Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut menilai, bangunan modern di Indonesia banyak yang tak sesuai sehingga rawan terhadap gempa.

Bangunan yang rawan terhadap gempa bumi biasanya berbahan dasar batako atau batu bata yang tidak diikuti dengan perhitungan kolom dan baloknya.

“Tapi bangunan modern malah banyak yang tidak sesuai. Misalnya bangunan menggunakan tembok atau batako atau batu bata, tapi tidak dihitung dan tidak dilengkapi dengan perkuatan kolom dan baloknya,” tambah Astyka.

Pria yang akrab disapa Tiko itu menjelaskan, bangunan tradisional umumnya lebih tahan terhadap gempa bumi.

Bangunan tradisional yang biasanya didominasi oleh bahan dasar kayu tersebut dinilai lebih ringan dan lentur sehingga tahan terhadap guncangan.

Ditanya soal gempa bumi yang terjadi sejak Selasa 13 Desember 2022 mengguncang Bali, Astyka menjelaskan, Indonesia memang berada di area tektonik aktif.

Sehingga, kemungkinan terjadinya gempa hampir berada di seluruh Indonesia.

“Gempa umumnya memang ada susulannya, apalagi gempa besar. Gempa susulan, umumnya lebih kecil dari gempa utamanya. Pada dasarnya, kita di Indonesia berada di area tektonik aktif, sehingga kemungkinan terjadi gempa hampir di seluruh Indonesia,” kata Astyka. (ful/mah)

Kumpulan Artikel Gempa Bali

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved