Oleh oleh Bali

Oleh-oleh Bali, Rupawan Raup Jutaan Rupiah Dari Kerajinan Markah Buku

Wayan Rupawan yang juga penyandang disabilitas ini membuat beragam kerajinan. Seperti markah buku (bookmark), kalung dan gelang.

Tribun Bali/ Muhammad Fredey
Wayan Rupawan saat menunjukkan markah buku (bookmark) hasil kerajinan tangannya. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Kembalinya gairah pariwisata pasca diterjang pandemi Covid-19, tentu menjadi berkah bagi I Wayan Rupawan. Sebab dengan kembalinya para wisatawan, pria 42 tahun itu bisa kembali menjual berbagai kerajinan tangan, yang tentunya memberi tambahan pendapatan bagi dia dan keluarga.

Wayan Rupawan yang juga penyandang disabilitas ini membuat beragam kerajinan. Seperti markah buku ( bookmark), kalung dan gelang, hingga kerajinan batok kelapa (beruk). Usahanya ini sudah dia geluti sejak 2004. 

"Saat itu saya tinggal di Tampaksiring, Gianyar. Kebetulan ada teman yang membuat bookmark atau book klip, sehingga saya tertarik. Sejak saat itulah saya minta diajari cara membuatnya, dan hingga sekarang bisa jadi pengasihan tambahan," katanya saat ditemui di kediamannya, di Banjar Sembung, Kelurahan Bebalang, Bangli, Minggu (18/12/2022).

Rupawan mengatakan bahan dasar pembuatan bookmark menggunakan bambu jelepung. Prosesnya pun sangat mudah, yang mana dalam sehari ia bisa membuat hingga 20 keping. "Satu keping bookmark ini harganya Rp 25 ribu," ucapnya.

Contoh kerajinan batok kelapa dari Wayan Rupawan
Contoh kerajinan batok kelapa dari Wayan Rupawan (Muhammad Fredey Mercury)

Kebanyakan pembeli bookmark dari tamu-tamu luar negeri, terutama dari Perancis. Diakui untuk saat ini penjualan bookmark berangsur-angsur mulai membaik, pasca pandemi Covid-19 ini. Karena dari tamu sudah mulai ada kunjungan ke yayasan. "Dalam sebulan, rata-rata bisa jual 70 sampai 80 keping. Secara nominal, kisarannya mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta," sebutnya.

Selain bookmark, bapak tiga anak tersebut juga membuat kerajinan dari batok kelapa, sebagai hiasan meja. Diakui tidak ada kendala untuk mencari bahan baku pembuatan kerajinan ini. Sebab dirinya memanfaatkan kelapa sisa upacara adat. 

Kendati demikian, untuk proses pembuatannya diakui cukup sulit, lantaran membutuhkan detail yang tinggi. Sehingga dalam sehari ia hanya bisa menghasilkan satu produk. Terlebih seluruh pekerjaannya ini dilakukan seorang diri. "Untuk kerajinan ini harganya berkisar Rp 70 ribu hingga Rp 150 ribu. Tergantung dari desain dan tingkat kesulitannya," ucap dia.

Selain kerajinan bookmark dan batok kelapa, pria asal Gunung Bau, Kintamani ini, juga membantu membuat pernak-pernik aksesoris seperti anting, kalung dan gelang. Ini merupakan bisnis sang istri yang bernama Sang Ayu Nyoman Sardiwati.

Wayan Rupawan yang juga penyandang disabilitas ini membuat beragam kerajinan.
Wayan Rupawan yang juga penyandang disabilitas ini membuat beragam kerajinan.

Sejatinya jika dibandingkan dengan kerajinan bookmark dan batok kelapa, diakui bisnis aksesoris ini lebih menguntungkan. Mengingat sudah ada pelanggan yang memesan secara kontinyu, yakni turis asal Italia. 

"Permintaannya mencapai satu kontainer, yang terdiri dari ratusan jenis set anting, kalung dan gelang. Secara nominal bisa mencapai hingga Rp 50 juta lebih. Tentunya kalau sudah ada pesanan ini sangat menguntungkan, karena teman-teman disabilitas yang lain bisa ikut bantu. Walau demikian, saat ini pesanan aksesoris sudah berkurang akibat dampak perang Rusia dan Ukraina," ucapnya.

Hasil kerajinan terutama bookmark dan batok kelapa dijual di galeri yang ada di Yayasan Senang Hati. Kata Wayan Rupawan, yayasan yang berlokasi di Bitra, Gianyar itu bekerjasama dengan travel untuk menjadi tempat makan siang tamu-tamu mancanegara. "Lokasi makan siang itu juga merupakan galeri. Sehingga tamu-tamu bisa sekalian melihat-lihat dan membeli hasil kerajinan teman-teman disabilitas," ucap dia.

Contoh kerajinan batok kelapa dan beberapa aksesoris seperti gelang dan kalung
Contoh kerajinan batok kelapa dan beberapa aksesoris seperti gelang dan kalung

Sejatinya bapak tiga anak ini ingin mengikuti pameran dalam acara-acara yang diadakan di Bangli. Salah satunya saat Penglipuran Village Festival lalu. Hanya saja informasi terkait acara seperti ini diakui cenderung minim. Sementara pihaknya juga tidak memiliki kontak penghubung dengan pihak penyelenggara.

"Harapan kami dari perajin, mungkin dinas-dinas terkait bisa menjadi penghubung saat ada event yang diselenggarakan di Bangli. Sehingga kami pelaku UMKM dan juga penyandang disabilitas bisa ikut serta dalam acara tersebut. Karena walaupun kami seperti ini ( disabilitas) kami juga memiliki hasil karya yang bisa dipamerkan dan dijual," tandasnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved