Berita Badung
UID Bali Campus Gelar Diskusi White Paper NCCC Untuk Pembangunan Yang Berkeadilan
UID Bali Campus Gelar Diskusi White Paper NCCC Untuk Pembangunan Yang Berkeadilan
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Tantangan krisis iklim telah mendorong negara-negara di dunia untuk melaksanakan komitmen upaya menurunkan emisi gas rumah kaca, termasuk Indonesia yang masih butuh mengoptimalkan kekayaan alam, kearifan lokal dan karbonnya dalam menyejahterakan rakyatnya.
Hari ini, sebuah diskusi tentang integrasi konsep sumber daya alam (natural capital), masyarakat (communities), dan karbon (carbon) atau NCCC, digelar oleh Yayasan Upaya Indonesia Damai (UID) sebagai pengingat bagi seluruh pihak untuk memanfaatkan ketiga unsur khas Indonesia tersebut sebagai prinsip yang perlu dipegang teguh dalam setiap upaya mitigasi perubahan iklim.
Diskusi ini diadakan seiring dengan peluncuran sebuah White Paper yang mengupas tentang konsep NCCC di UID Bali Campus, Kura Kura Bali, Serangan, Bali.
Para peserta diskusi terdiri dari perwakilan pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, lembaga donor, dan pihak-pihak terkait yang mendukung komitmen Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim.
Adapun komitmen Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim secara resmi dimulai sejak Konferensi Para Pihak (COP) ke-15 pada 2009 lalu.
Hal ini dituangkan ke dalam janji Nationally Determined Contribution (NDC) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan upaya domestik dan 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030.
Pada 2021, atas masukan dari berbagai pihak, Indonesia telah memodifikasi dokumen NDC-nya.
Terdapat beberapa penyesuaian merujuk dengan RPJMN 2020-2024 dan Visi Indonesia Emas 2045.
Sejumlah inisiatif sudah dijalankan untuk mendukung komitmen Indonesia tersebut, namun terdapat kebutuhan untuk hadirnya sebuah panduan yang menjadi kompas penunjuk arah, pengingat, dan dasar pemikiran yang mengintegrasikan praktik pelestarian yang sudah mengakar di masyarakat lokal di berbagai wilayah Indonesia.
“Diskusi tentang NCCC hari ini bertujuan untuk menjelaskan secara otoritatif konsep NCCC sebagai kompas filosofis dan panduan kebijakan yang dapat disepakati antara publik, swasta, dan pemerintah. Acara ini juga melibatkan masyarakat sipil untuk membahas NCCC sebagai White Paper yang dapat diarusutamakan sejalan dengan SDGs,” kata Ketua Umum Yayasan UID, Tantowi Yahya pada sambutannya, Rabu 22 Februari 2023.
Lebih dalam lagi, White Paper NCCC ini mengompilasi data berbasis hasil survei lapangan, diskusi lintas sektor tingkat makro, dan konsolidasi nilai-nilai dari literatur negara sebagai metode untuk menelusuri dan memperkaya konteks dan perspektif rekomendasi-rekomendasi praktik lapangan yang berkelanjutan.
White Paper ini juga menampilkan beberapa praktik di lapangan yang sudah menerapkan konsep NCCC diantaranya di Dufa-dufa, Ternate, Maluku Utara; Tawangargo, Malang, Jawa Timur; Pasir dan Sekubang, Mempawah, Kalimantan Barat; dan Nipah Panjang dan Medan Mas, Kubu Raya, Kalimantan Barat.
“Tujuan dari White Paper ini adalah sebagai panduan untuk semua pelaku kepentingan terkait dari publik, swasta, dan pemerintah dalam memperkuat hubungan antara unsur alam dan manusia,” imbuh Strategy, Learning, and Knowledge Curator of Dala Institute sekaligus penyusun NCCC White Paper, Cininta Pertiwi.
Ia menambahkan kedua aspek tersebut perlu berjalan dengan dengan seimbang demi mencapai target pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, objektif lain dari White Paper ini adalah untuk menyediakan sebuah kerangka kerja dalam memandu proses pengelolaan sumber daya alam, serta upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.