Berita Bali
Berhasil Ekspor Bandeng Buleleng ke Luar Negeri, LPEI Libatkan 2000 Pembudidaya Bangun Klaster Benih
Dengan permintaan pasar yang mulai meningkat, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank membangun Desa Devisa Klaster Benih
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Budidaya benih bandeng atau nener di Buleleng, Bali semakin digencarkan oleh pemerintah Indonesia.
Mengingat Bandeng Buleleng kini sudah di ekspor ke luar negeri.
Dengan permintaan pasar yang mulai meningkat, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank membangun Desa Devisa Klaster Benih Bandeng Buleleng.
Baca juga: Paket Sembako Habis, Polres Klungkung Bagikan Ikan Bandeng untuk Tarik Minat Warga Vaksinasi
Bahkan Program Desa Devisa di Kabupaten Buleleng, Bali ini melibatkan lebih dari 2.000 individu pembudidaya benih bandeng di tujuh desa, yaitu Patas, Gerokgak, Sanggalangit, Musi, Penyabangan, Banyupoh, dan Pemuteran.
"Peresmian Desa Devisa Klaster Benih Bandeng Buleleng sudah kita lakukan pada bulan Maret 2023 lalu. Bahkan sekarang kita melibatkan 2.000 pembudidaya ini, yang tergabung dalam Perhimpunan Pembudidaya Perikanan Pantai Buleleng (P4B)," ujar Kepala Kantor Wilayah III LPEI Koerniawan Prijambodo pada siaran persnya Selasa 11 April 2023.
Baca juga: Perayaan Hari Arak Bali di Tabanan, Perajin Arak Minta Dibuatkan Pameran, Berharap Tembus Ekspor
Diakui, secara keseluruhan, anggota P4B mampu menghasilkan hingga 12 juta benih bandeng per hari. Bahkan 85 persennya dadi hasil tersebut telah diekspor ke luar negeri seperti Filipina, Singapura, Malaysia, hingga Taiwan.
Diakui, tingginya produktivitas budidaya benih bandeng di Buleleng ini tak lepas dari kondisi cuaca Bali yang relatif aman dari badai serta dukungan dari Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluh Perikanan (BBRBLPP) Gondol.
Baca juga: Dukung Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan, Pemerintah Sesuaikan Tarif Pungutan Ekspor CPO
"Benih bandeng di Buleleng telah menjadi komoditas prioritas dengan total kontribusi devisa sebesar Rp200 miliar di tahun 2019. Kami melihat potensi yang luar biasa dan yakin dapat membantu memperluas pasarnya di kancah internasional melalui dukungan pendampingan yang komprehensif," ujar Koerniawan Prijambodo.
Ia pun menambahkan, dalam jangka waktu 1 tahun pendampingan, LPEI berkolaborasi dengan Disperindag dan Koperasi UKM Kabupaten Buleleng dan KPP Bea Cukai Denpasar akan mendukung Desa Devisa Benih Bandeng Buleleng lewat berbagai pendampingan.
Pendampingan yang dimaksud seperti peningkatan kapasitas produksi dengan pemberian sarana produksi berupa pompa air dan instalasi pipa, pendampingan manajemen usaha, penguatan kelembagaan, hingga pendampingan dalam akses pembiayaan.
"LPEI telah memberikan bukti dalam membantu peningkatan kapasitas produksi dengan menyalurkan fasilitas pembiayaan sebesar Rp 8 miliar kepada CV Dewata Laut, yang merupakan salah satu UKM budidaya benih bandeng berorientasi ekspor di Buleleng yang tergabung dalam P4B. Hal ini merupakan wujud nyata dari pelaksanaan program Penugasan Khusus Ekspor dari pemerintah kepada LPEI dalam rangka mendukung sektor usaha kecil dan menengah (UKM) berorientasi ekspor," bebernya
Dijelaskan juga pemilik dan Direktur CV Dewata Laut I Nyoman Suitra sangat menyambut baik program Desa Devisa dari LPEI.
Menurutnya karena pendampingan inilah yang dibutuhkan sebagai pembudidaya benih bandeng untuk dapat memperluas wawasan, bertransformasi dari budidaya rumahan menjadi badan usaha formal, hingga menjangkau pasar baru di skala global.
"Ke depannya, mereka ingin mengekspor ke pasar yang lebih besar lagi agar semakin banyak masyarakat di Buleleng yang berbudidaya untuk meningkatkan perekonomian," ungkapnya
Untuk diketahui, sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan RI, LPEI diberikan mandat untuk mendorong pertumbuhan ekspor nasional melalui penyediaan pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi ekspor.
Program Desa Devisa merupakan salah satu layanan konsultasi ekspor LPEI memberdayakan UKM dalam wujud pengembangan komunitas.
Hingga akhir tahun 2022, secara akumulatif LPEI telah berhasil mencetak sebanyak 178 Desa Devisa. Sebelumnya pada event G20, LPEI juga menggandeng 10 UMKM di Bali untuk diperkenalkan produknya di mata Dunia. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.