Serba Serbi

Buda Cemeng Klawu Hari Ini, Jangan Menagih Utang Tribunners! Ini Daftar Rahinan Selama Mei 2023

Beberapa umat Hindu juga ada yang memaknainya, dengan menghaturkan banten di tempat penyimpanan uang maupun di uangnya.

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Ilustrasi canang sari - Watugunung Runtuh adalah berkaitan dengan kisah kekalahan Watugunung oleh Bhatara Wisnu, karena sikapnya yang jahat dan angkuh. Kekalahan Watugunung ini dianggap sebagai kalahnya kebodohan pada diri manusia, dan menunggu hadirnya ilmu pengetahuan saat Saraswati.  Untuk itu, pada hari ini disebut dengan Kajeng Kliwon Pamelas Tali, atau pemutus hubungan buruk. Umat Hindu tentu saja diharapkan sadar akan makna filosofi kisah ini, serta dapat menghaturkan sesajen atau banten sebagai rasa sujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.  

TRIBUN-BALI.COM - Hari ini, 3 Mei 2023, umat Hindu khususnya di Bali merayakan rahinan Buda Cemeng Klawu

Hari raya ini merupakan pemujaan terhadap Bhatara Rambut Sedana yang dilaksanakan di merajan keluarga, pemilik toko, pura kahyangan tiga desa pakraman, maupun pura kahyangan jagat di Bali.

Beberapa umat Hindu juga ada yang memaknainya, dengan menghaturkan banten di tempat penyimpanan uang maupun di uangnya.

Selain itu, dalam lontar Sundarigama disebutkan;

Buda wage, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksema pegating indria, betari manik galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala.

Berdasarkan terjemahan lontar Sundarigama yang diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma Kabupaten Tabanan tahun 1976, artinya;

Buda Wage, Buda Cemeng namanya, keterangannya ialah, mewujudkan inti hakekat kesucian pikiran, yakni putusnya sifat-sifat kenafsuan, itulah yoga dari Bhatari Manik Galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara amrta (inti hakekat kehidupan), di luar ruang lingkup dunia sekala.

Maka patut melakukan upacara dengan sarana wangi-wangi, memuja disanggar dan di atas tempat tidur serta menghaturkan kepada Sang Hyang Çri, lalu melakukan renungan suci pada malam harinya.

Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Bali pada Buda Cemeng Klawu tidak diperbolehkan untuk melakukan transaksi dengan uang misalnya membayar utang, menagih utang atau menabung.

Walaupun pada saat ini kepercayaan ini sangat sulit untuk dilaksanakan, namun ada pelajaran berharga yang bisa dipetik bahwa sebagai manusia kita harus mampu untuk mengendalikan diri dan mengekang hawa nafsu.

Selain itu menjadi paham bahwa uang bukan segalanya karena di atas segala-galanya masih ada kuasa Tuhan yang mengatur semua itu. 

Baca juga: Ramalan Zodiak Kamis 4 Mei 2023 untuk Cancer, Leo dan Virgo: Horoskop Karir, Cinta dan Keuangan

Baca juga: Promo Alfamart Terbaru 4-15 Mei 2023 Teh Celup Sosro Rp6.500 Sarden Rp9.300 Diskon Shopeepay

Ilustrasi canang sari - Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Bali pada Buda Cemeng Klawu tidak diperbolehkan untuk melakukan transaksi dengan uang misalnya membayar utang, menagih utang atau menabung.

Walaupun pada saat ini kepercayaan ini sangat sulit untuk dilaksanakan, namun ada pelajaran berharga yang bisa dipetik bahwa sebagai manusia kita harus mampu untuk mengendalikan diri dan mengekang hawa nafsu.

Selain itu menjadi paham bahwa uang bukan segalanya karena di atas segala-galanya masih ada kuasa Tuhan yang mengatur semua itu. 
Ilustrasi canang sari - Selain itu, dalam kepercayaan masyarakat Bali pada Buda Cemeng Klawu tidak diperbolehkan untuk melakukan transaksi dengan uang misalnya membayar utang, menagih utang atau menabung. Walaupun pada saat ini kepercayaan ini sangat sulit untuk dilaksanakan, namun ada pelajaran berharga yang bisa dipetik bahwa sebagai manusia kita harus mampu untuk mengendalikan diri dan mengekang hawa nafsu. Selain itu menjadi paham bahwa uang bukan segalanya karena di atas segala-galanya masih ada kuasa Tuhan yang mengatur semua itu.  (Tribun Bali/AA Seri Kusniarti)

Yuk simak apa saja rahinan selama bulan Mei 2023 ini Tribunners!

Tanggal 4 Mei 2023, rahinan Purnama Jiyestha.

Purnama adalah waktu terakhir pada paroh terang, dan waktu awal pada paroh gelap.

Oleh sebab itu, purnama dianggap waktu sakral.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved