Berita Bangli

Sebanyak 2010 Seniman Bangli Meriahkan Pawai Budaya Bangli 2023

Pawai Budaya dalam serangkaian HUT Bangli ke 819 diikuti oleh 2010 seniman se Kabupaten Bangli.

|
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Putu Kartika Viktriani
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Suasana Pawai budaya serangkaian HUT Bangli ke 819 pada Minggu 21 Mei 2023. 

"Kata mekala- kalaan berasal dari kata kala yang berarti energi. Energi kala brahma merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki unsur keraksasaan, bisa memberi pengaruh buruk pada pasangan pengantin yang disebut dengan sebel kandel," kata Putu Sumardiana. 

Lanjutnya, upacara mekala-kalaan adalah sebagai sarana penetralisir kekuatan negatif 'kala brahma' agar menjadi kekuatan baik atau disebut 'kala hita', dengan cara nunas panugrahan dari sang hyang purusangkara untuk nyomya sang kala brahma dan sang hyang nara swari agar menjadi sang hyang semara jaya dan sang hyang semara.

Untuk Kecamatan Susut, menampilkan pakaian khas pengantin dari Desa Gebog Satak Tiga Buungan.

Camat Susut, I Dewa Putu Apriyanta menjelaskan, Desa Gebog Satak Tiga Buungan merupakan salah satu Desa Tua di Kecamatan Susut.

Karenanya ada beberapa keunikan yang dimiliki dan tak dimiliki oleh Desa adat lain.

Salah satunya pakaian pengantin. 

"Pakaian pengantinnya sangat sederhana. Untuk mana pengantin laki-laki memakai Udeng, Saput, Kamen Kadutan/Keris dan memakai bunga pucuk bang serta pucuk daun dapdap. Sedangkan pakaian pengantin perempuannya mengenakan saab sebagai penutup kepala, pakai handuk sebagai penutup badan, kamen dan tapih," sebutnya. 

Sedangkan untuk pelaksanaan upacara (Mekalan-kalan), dilaksanakan di ujung batas banjar desa setempat, bukan di rumah.

Saat acara mekalan-kalan itu si pengantin di antar keluarga berjalan kaki menuju tempat upacara yaitu di batas banjar.

"Maksud dan tujuan pengantin harus berjalan kaki dari rumah ke tempat upacara, yakni untuk memperkenalkan diri ke warga, karena saat si Pengantin di jalan akan di tonton oleh warga yang rumahnya dilewati oleh pengantin tersebut," sambungnya. 

Sedangkan Kecamatan Bangli dalam pawai budaya ini mengambil cerita Ni Madu Segara.

Menurut Camat Bangli, Sang Made Agus Dwipayana, cerita ini menggambarkan bhakti seorang murid kepada gurunya.

Yang mana demi bhaktinya tersebut, sang murid rela kesaktiannya dipotong dan dibuang ke samudera.

"Cerita ini mengangkat sisi lain dari calonarang terutama tokoh Rarung sebelum menjadi murid Walunata," sebutnya. 

Cerita ini juga sesuai dengan ogoh-ogoh yang tampilkan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved