Berita Denpasar
Terkait WNA Nakal di Bali, Jaya Negara Usulkan WNA ke Bali Wajib Punya Saldo
Terkait WNA Nakal di Bali, Jaya Negara Usulkan WNA ke Bali Wajib Punya Saldo
Penulis: Putu Supartika | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- WNA nakal di Bali terus menjadi sorotan belakangan ini.
Banyak yang sudah ditangkap dan dideportasi karena melakukan ulah tak sesuai peraturan yang berlaku.
Terkait hal tersebut, Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara mengusulkan agar WNA yang berlibur ke Bali harus memiliki saldo dalam jumlah tertentu.
Hal tersebut berkaca dari WNI yang berlibur ke luar negeri diwajibkan memiliki saldo.
“Kita ke luar negeri kan harus punya saldo sebagai jaminan. Dan itu harus kita lakukan juga bagi bule yang datang ke Bali,” kata Jaya Negara.
Dirinya menambahkan, hal tersebut pun harus dipertegas agar WNA atau turis yang datang ke Bali lebih berkualitas.
Selain itu, sebelumnya Jaya Negara juga mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Ketua PHRI Bali yang juga Wakil Gubernur Bali, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati terkait wisatawan berkualitas ini.
Dan pihaknya juga melihat, banyak hotel yang sampai melakukan banting harga demi menggaet wisatawan.
“Yang dikejar wisatawan wisatawan berkualitas karena saya melihat beberapa hotel dulunya harganya Rp1 juta atau minimal Rp800 ribu, sekarang dijual Rp400 ribu,” kata Jaya Negara beberapa waktu lalu.
Sehingga pihaknya ingin agar ada perubahan paradigma di kalangan wisatawan asing yang selama ini menganggap Bali murah.
“Sekarang kualitas wisatawan asing kita rubah. Apalagi dengan adanya UU Provinsi Bali,” katanya.
Jaya Negara menyebut, dengan harga kamar yang murah akan membuat hotel tak mendapat keuntungan.
Semisal tingkat huniannya hanya 60 persen dengan harga per kamar Rp 400 ribu, tentu pendapatan hotel akan pakpok.
“Dulu kan 60 persen dengan harga kamar Rp1,2 juta itu sama dengan 100 persen kunjungnya. Makanya kualitas sekarang kita kejar,” katanya.
Ia menambahkan untuk harga atau tarif kamar hotel juga harus ditetapkan.
Sehingga hotel tak berlomba-lomba menurunkan harga pasaran.
“Jangan sampai justru pihak yang tidak memiliki hotel lebih untung daripada yang punya hotel,” katanya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.