Jero Pasek Meninggal Dunia

Jero Pasek Seakan Memilih Harinya Sendiri, Pawang Hujan Itu Meninggal Tepat di Ulang Tahun ke-59!

Pihak keluarga menyatakan, jenazahnya akan dikremasi di Klungkung. Dalam beberapa bulan belakangan, kondisi kesehatan Jero Pasek terus menurun.

Eka Mita Suputra/Tribun Bali
Made Sucipta atau yang lebih dikenal dengan Jero Pasek saat ditemui di kediamannya tahun 2021 lalu. 

TRIBUN-BALI.COM - Rumah Jero Pasek di Banjar Pande, Desa Kamasan, Klungkung tampak lengang, Selasa (15/8). Gerbang masih terkunci rapat. Kabar dari keluarga pawang hujan ini, jenazah Jro Pasek sudah dititipkan di RSUD Klungkung.

Pihak keluarga menyatakan, jenazahnya akan dikremasi di Klungkung. Dalam beberapa bulan belakangan, kondisi kesehatan Jero Pasek terus menurun. Ia menderita diabetes.

Jero Pasek atau Made Sucipta meninggal dunia, Senin (14/8). Ia seakan memilih harinya berpulang. Ia meninggal tepat pada hari ulang tahunnya ke-59. Pawang hujan dengan penampilan nyentrik dan gaya ikonik itu lahir pada 14 Agustus 1964.

Kelian Banjar Pande, Desa Kamasan, Kadek Artaya mengatakan, jenazah dari Jero Pasek akan dikremasi pada 21 Agustus 2023 mendatang. "Informasi dari keluarga, kremasi akan digelar di Krematorium Punduk Dawa," jelas Artaya.

Ia mengungkapkan, semasa hidup, Jero Pasek adalah warga banjar yang cukup aktif bermasyarakat. Namun karena sudah tidak memiliki istri, Jero Pasek dibebaskan dari beberapa kewajiban kegiatan di banjar.

Baca juga: Slamet Ditemukan Tertelungkup Kaku! Tangannya Memegang Sikat dan Pasta Gigi, Kejadian di Badung

Baca juga: Rp70 Miliar Untuk Mall Pelayanan Publik, Tiga OPD di Pemkab Gianyar Jadi Satu Gedung!

Made Sucipta atau yang lebih dikenal dengan Jero Pasek semasa hidup.
Made Sucipta atau yang lebih dikenal dengan Jero Pasek semasa hidup. (Istimewa)

Sementara di mata tetangganya, Jro Pasek adalah sosok yang biasa-biasa saja dalam pergaulan. Jro Pasek tetap mengusahakan diri hadir tiap ada kegiatan banjar.

"Dalam hal pertemanan biasa-biasa saja. Karena ragane tidak ada istri, jadi tidak ada kewajiban di banjar. Dia lebih sering di Denpasar dan juga ada tugas sebagai pawang sehingga jarang di rumah. Tapi tetep ragane hadir kalau ada kegiatan banjar," kata Gusti Giri, tetangga Jro Pasek..

Jero Pasek diketahui memiliki tiga anak. Dua laki-laki dan seorang perempuan yang sudah meninggal dunia. Aksi tukang terang satu ini memang ramai dibincangkan. Ia kerap terlihat dalam beberapa acara penting di Bali.

Sebelum jadi tukang terang, Jro Pasek adalah pekerja swasta di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Ia bertugas membawa makanan ke maskapai. Pekerjaan itu dilakoninya sampai tahun 2008. Namun Jro Pasek mengaku mendapat pawisik untuk berhenti bekerja.

Gayung bersambut, ia diminta pensiun dini dari maskapai tempatnya bekerja itu. Saat itulah ia memantapkan diri menjadi pawang hujan. Jro Pasek kerap menarik perhatian publik karena aksinya yang unik.

Di keramaian ia menggambar telapak tangannya. Menyulut rokok kemudian seolah-olah rokok itu adalah pensil atau kuas gambar. Gambar yang ia imajinasikan di telapak tangannya lalu diarahkan ke langit.

Saat itu terjadi, ia terkesan sedang mengendalikan awan. Saat beraksi, ia juga kerap mengenakan kaus ikonik bertuliskan 'Rain Stopper Since 2001' dengan dua lambang Ongkara. Di belakang bajunya bertuliskan, Jro Pasek Pawang Hujan Ciwa-Budha.

Beberapa kali aksinya itu dianggap berhasil mencegah hujan saat acara-acara besar. Beberapa acara besar yang pernah ditangani Jro Pasek antara lain pelebon Ida Pedanda Nabe Gede Dwija Ngenjung pada 2021 lalu, pelebon permaisuri dari tokoh Puri Agung Klungkung pada tahun 2014. Kemudian banyak kegiatan-kegiatan kedinasan Polri dan TNI. (mit)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved