Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Karangasem

Salak Selalu Murah Tiap Panen, Terjadi Perang Harga Antar Petani di Karangasem Bali

Setelah hari raya Galungan dan Kuningan, harga salak anjlok. Salak biasa berukuran besar yang semula Rp 12 ribu per kilogram turun menjadi Rp 5.000.

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
tribunnews
Setelah hari raya Galungan dan Kuningan, harga salak anjlok. Salak biasa berukuran besar yang semula Rp 12 ribu per kilogram turun menjadi Rp 5.000. 

TRIBUN-BALI.COM - Setelah hari raya Galungan dan Kuningan, harga salak anjlok. Salak biasa berukuran besar yang semula Rp 12 ribu per kilogram turun menjadi Rp 5.000. Sedangkan salak gula yang semula Rp 23 ribu menjadi 15 ribu per kilogram.

Petani salak asal Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Putu Sudita mengatakan, harga salak mengalami penurunan sejak sepekan lalu. Ia mengatakan, saat memasuki musim panen, pasokan salak di Karangasem meningkat dan terjadi persaingan harga antar petani.

"Salak itu musim panen dua kali. Pertama Januari sampai Februari, panen kedua Agustus. Sekarang petani salak mulai masuk masa panen kedua ini. Kemungkinan sampai awal September," kata dia, Minggu (20/8).

Harganya jual oun tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. "Kemungkinan harga terus mengalami penurunan karena pasokan akan terus meningkat. Kalau pasokan kurang, harga akan naik," kata Sudita.

Baca juga: Pemkab Jembrana Tutup Akses Pembeli ke Pasar Umum Negara, 600 Pedagang Belum ke Tempat Relokasi

Baca juga: CLOSED! Turis Tak Boleh Masuk Selama Piodalan Padudusan Agung Pura Goa Lawah, Bisa Lihat Dari Jaba

Baca juga: Pelaku Kabur Setelah Gagal Bongkar Mesin ATM, Suara Gerinda di Minimarket Pukul 05.00 Wita

Setelah hari raya Galungan dan Kuningan, harga salak anjlok. Salak biasa berukuran besar yang semula Rp 12 ribu per kilogram turun menjadi Rp 5.000.
Setelah hari raya Galungan dan Kuningan, harga salak anjlok. Salak biasa berukuran besar yang semula Rp 12 ribu per kilogram turun menjadi Rp 5.000. (Ida Bagus Putu Mahendra)

Ia berharap harga kembali normal sehingga para petani tidak terlalu rugi. Namun hampir semua petani salak sekarang panen. "Kondisi ini rutin terjadi setiap tahun saat memasuki musim panen," jelas Sudita.

"Petani terpaksa menjual buah salak ke pengepul di pasar. Biasanya salak yang dibeli pengepul dikirim ke Jakarta, Nusa Tenggara hingga Jawa. Daripada rugi banyak mendingan dijual ke pasar dengan harga segitu," sambung dia.

Banyak lahan pertanian salak di Kecamatan Selat kini beralih jadi lahan pertanian padi. Ini karena harga salak yang setiap musim panen turun. Petani menganggap Pendapatan dari penjualan salak tidak sesuai dengan pengeluarannya. (ful)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved