Berita Denpasar
Akses Utama Jadi Kendala Pengembangan Jalan Gajah Mada Denpasar, Walikota: Kalau Ditutup Pasti Macet
Selama ini Jalan Gajah Mada digadang-gadang sebagai heritage Kota Denpasar. Akan tetapi untuk proses pengembangan kawasan tersebut terkendala akses
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama ini Jalan Gajah Mada digadang-gadang sebagai heritage Kota Denpasar.
Akan tetapi untuk proses pengembangan kawasan tersebut terkendala akses jalan.
Pasalnya Jalan Gajah Mada merupakan akses utama di Kota Denpasar.
Baca juga: Wakil Wali Kota Denpasar Arya Wibawa Tinjau Safari Kesehatan di Padangsambian
Apabila Jalan Gajah Mada ditutup dan digunakan sepanjang jalan Gajah Mada, maka akan membuat kemacetan.
Hal itu diungkapkan Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara.
Selain itu, keberadaan Jalan Gajah Mada berbeda dengan heritage city di Semarang.
Baca juga: Dari 200 Ribu Wajib Pajak PBB P2 di Denpasar, Baru 4 Ribuan Gunakan Online, Hadiah 8 Motor Listrik
"Kalau di Semarang memang bangunannya heritage. Kalau di Gajah Mada, kita jual story atau cerita," katanya.
Permasalahan parkir juga masih jadi kendala dalam pengembangan Jalan Gajah Mada.
"Untuk parkir rencananya memanfaatkan di bawah Lapangan Puputan Badung, tapi tidak bisa langsung jadi karena dananya Rp360 miliar," katanya.
Baca juga: Hanya Dapat Macet dan Jadi Penonton, Dewan Denpasar Minta KEK Sanur Berdampak Pada Warga Sekitar
Pihaknya juga mengaku sempat bertemu dengan pengusaha di Jalan Gajah Mada dan komunitas Kampung Arab untuk memanfaatkan ruas Jalan Sulawesi.
Namun belum ada kesepakatan semua mendukung hal itu.
Oleh karena itu, pihaknya hanya melakukan kerja sama event seperti dengan Inti Bali untuk menggelar Festival Imlek, atau pun dengan Banjar Wangaya Kelod.
Selain itu, juga digelar acara Denpasar Festival setiap tahunnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.