Mertua Bunuh Menantu di Pasuruan

Mertua Ditolak Menantu Berujung Pembunuhan, Ibu Korban Ungkap Firasat Sebelum Kepergian Putrinya

Kedua, sang anak juga sempat bercerita, bahwa pada hari itu telah resmi memiliki Kartu Keluarga (KK) tersendiri dengan suaminya, Sueb.

TRIBUNJATIM.COM/LUHUR PAMBUDI/dok keluarga
Orangtua dari menantu yang dibunuh mertuanya saat ditemui di rumah duka, Rabu (1/11/2023). Ayah korban Abdul Munir (58) dan ibu korban Nurul Afini (49) menceritakan putrinya sebelum meninggal. Ada firasat yang diungkap sang ibu. 

Tatapan matanya nanar kosong, meskipun mulutnya berusaha seramah mungkin mempersilakan para tamu pentakziah dari kerabat, kolega hingga awak media untuk menikmati suguhan ala kadarnya di teras rumahnya.

Beberapa kali ia berusaha menyeka air matanya yang menetes silih berganti membasahi pipi wanita berkerudung itu.

Hanya dengan kaca mata berbingkai cokelat yang dikenakannya itu, Nurul Afini berupaya sekuat mungkin menyembunyikan kesedihannya.

Seraya geleng-geleng kepala, Nurul Afini tak menyangka bahwa anaknya itu bakal menemui ajalnya begitu cepat dengan cara yang mengenaskan.

Padahal, beberapa jam sebelum memperoleh kabar mengagetkan tersebut pada Selasa (31/10/2023), sekitar pukul 13.00 WIB, ia sempat berkomunikasi dengan sang anak melalui sambungan telepon video call WhatsApp (WA).

Nurul Afini mengaku sempat berkomunikasi dengan sang anak hampir dua jam lamanya. Dan, rampung sekitar sekitar pukul 14.45 WIB.

Sepanjang berkomunikasi dengan sang anak, tak ada obrolan yang benar-benar serius. Semuanya terdengar wajar.

Perbincangan yang terlain ringan-ringan saja, seputar menanyakan kabar keseharian, disertai senda gurau hangat seperti biasanya. Semua dirasa Nurul Afini tanpa keanehan.

Bak petir menyambar di siang bolong, pada malam hari, sekitar pukul 17.30 WIB, ia tak menyangka bakal memperoleh kabar mengagetkan bahwa sang anak tak sadarkan diri hingga dibawa ke Puskesmas Purwoadi.

Ledakan emosi Nurul Afini makin membuncah setibanya di puskesmas tersebut sekitar pukul 21.00 WIB, dan ia harus mendapati anaknya sudah tak bernyawa dengan berbagai kejanggalan.

Kejanggalan yang diketahuinya seperti luka robek pada leher sisi kanan, dan kondisi memar pada bagian bawah perut anaknya yang membuncit karena hamil 6 bulan.

"Aku tatak (berusaha kuat) di puskesmas. Di sana aku lihat anakku kok pegang perutnya. Posisi pegang perut, sininya (leher sisi kanan) menganga. Cuma wajahnya senyum. Ya Allah nak, intinya saya mau keadilan," ujar Nurul Afini.

Nurul Afini mengaku sempat tak menerima kematian sang anak yang demikian nahas. Apalagi, beberapa jam sebelumnya, ia sempat berkomunikasi dengan sang anak.

Namun, saat dirinya berupaya tetap tegar dengan memaknai semua ini sebagai suratan takdir dari Sang Ilahi, ia perlahan-lahan mulai merelakan kematian sang anak meskipun berat dan menyesakkan dada.

Seraya berupaya mereguk hikmah dari kejadian yang sejatinya membuat ia berkalang air mata, Nurul Afini akhir mengangguk-angguk, bahwa beberapa perkataan aneh yang kerap kali dilontarkan sang anak selama video call beberapa jam lalu dan setiap momen berkomunikasi di beberapa kesempatan sebelumnya merupakan petanda atau firasat kepergian sang anak.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved