Hastag Bali Berduka
Ramai Soal Aksi Speeding, Edi Suambara Pembalap Komunitas Motor di Bali Beri Tanggapan
Ramai Soal Aksi Speeding, Edi Suambara Pembalap Komunitas Motor di Bali Beri Tanggapan, berbeda dengan balap liar
Penulis: Ida Bagus Putu Mahendra | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Istilah speeding kini tengah ramai diperbincangkan publik. Istilah ini viral pascamerebaknya tagar atau hastag “Bali Berduka” pada Sabtu 11 November 2023 lalu di media sosial.
Tagar “Bali Berduka” itu mencuat lantaran adanya isu tujuh nyawa melayang akibat aksi speeding.
Namun, kabar tersebut langsung dibantah oleh pihak Kepolisian Resor Kota Denpasar (Polresta Denpasar).
“Di media sosial itu dikatakan sampai 7 (meninggal dunia). Saya nyatakan hari Sabtu (11 November 2023) itu sampai 7 meninggal dunia tidak ada,” tegas Wakasatlantas Polresta Denpasar AKP Yusuf Dwi Admojo, Senin 13 November 2023.
Ditemui di kedai kopinya, Tri Pawns Kopi, Edi Suambara (32) selaku pembalap dari salah satu komunitas motor di Bali menuturkan, speeding berbeda dengan balap liar.
Pria yang akrab disapa Dhie Ambara itu menerangkan, speeding merupakan kegiatan touring dengan kecepatan yang tinggi.
Biasanya, terjadi ketika para pemotor secara bersama-sama berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
“Ketika kita night ride atau riding malam atau kita rolling itu, ada yang melakukan speed. Jadi speeding itu ketika kita touring dengan kecepatan tinggi, bareng-bareng,” jelasnya kepada Tribun Bali, Senin 13 November 2023.
Sementara balap liar, kata dia, terdiri dari dua motor yang saling memacu kecepatannya dan terdapat unsur taruhan alias judi.
Baca juga: Viral Aksi Speeding, Polresta Denpasar Sebut Ingin Menguji Nyali
“Kalau balap liar, mereka itu ada dua motor yang dipertaruhkan. Judi, taruhan,” imbuhnya.
Dhie Ambara yang terakhir kali merumput di Sirkuit Mandalika pada Agustus 2023 lalu itu menjelaskan, speeding terjadi lantaran ada oknum yang memantiknya.
Biasanya, dilakukan oleh leader dari suatu komunitas maupun oknum komunitas yang sengaja ingin memacu kendaraanya. Tujuannya, demi meningkatkan adrenalin yang bersangkutan.
“Kalau di jalan, kita harus mengikuti rombongan. Ketika leader sudah speed, kita harus ngikuti juga. Ada pemantiknya.”
“Ketika menggunakan kecepatan tinggi, adrenaline semakin tinggi, jantung berdebar-debar. Itu yang bikin orang kecanduan,” pandang Dhie Ambara yang beberapa kali sempat mengikuti gelaran Yamaha Sunday Race itu.
Speeding ini pasalnya bukan sebuah tren semata. Mulanya, speeding ini disebut diperuntukkan bagi motor gede (moge) dengan kategori 600-1.200cc.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.