Berita Badung
Kucurkan Rp 19 Miliar Lebih, Gabah Petani di Badung Dipastikan Dibeli Perumda Pasar dan Pangan MGS
Kucurkan Rp 19 Miliar Lebih Untuk Pembangunan RMU, Gabah Petani di Badung Dipastikan Dibeli Perumda Pasar dan Pangan MGS
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Rice Milling Unit (RMU) yang dirancang pemerintah Kabupaten Badung akan segera terwujud. Bahkan saat ini sedang dilakukan proses tender pada lelang elektronik.
Hanya saja, dengan adanya RMU tersebut, Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana(MGS) Kabupaten Badung harus meningkatkan kinerjanya. Pasalnya mereka diminta untuk membeli gabah petani dengan harga pasaran.
Pembangunan RMU itu pun dirancang dibangun di wilayah Mengwi, Badung dengan anggaran yang disiapkan Rp 19 Miliar lebih.
Dirut Perumda Pasar Mangu Giri Sedana Made Sukantra saat dikonfirmasi tidak menampik hal tersebut. Pihaknya mengaku semua itu dalam upaya meningkatkan petani mempertahankan eksistensi subak.
Diakui, dalam pengelolaan RMU Perumda Pasar Pangan MGS wajib membeli gabah yang dihasilkan oleh petani Badung yang terhimpun dalam wadah subak. Pembelian harga gabah harus dilakukan merujuk pada harga penetapan pemerintah (HPP) serta mempertimbangkan harga pasar.
"Hal itu dilakukan untuk memberikan kepastian harga jual gabah oleh petani serta menghindari terjadinya permainan harga gabah yang dilakukan oleh para penebas yang dapat merugikan petani sebagai akibat rendahnya harga jual gabah," katanya Selasa 21 November 2023
Untuk mewujudkanhal tersebut maka Perumda MGS disarankan untuk melakukan kontrak Kerjasama penjualan dan pembelian gabah antara subak dengan Perumda MGS. Diakui berdasarkan data produksi gabah dikaitkan dengan jumlah RMU yang ada saat ini di Kabupaten Badung, diperkirakan 10 persen sampai dengan 20% gabah petani Badung terjual keluar Bali.
"Untuk mengantisipasi hal tersebut dan berdasarkan hasilkajian investasi, maka Perumda MGS membangun RMU untuk mengelola gabah petani yang ada," jelasnya.
Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Badung I Wayan Adi Arnawa sebelumnya mengakui akibat dapak El Nino dan karena permintaan dengan ketersediaan tidak seimbang makanya terjadi kenaikan harga beras. Apalagi ketersediaan beras khusus dari petani sudah turun
Baca juga: Purnawirawan Polri Ditemukan Tewas di Dapur, Sang Anak Kaget Lihat Kondisi Ayahnya
Dijelaskan, saat ini harga beras di pasar sudah mencapai angka Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Akibat kenaikan harga beras dipasaran tersebut, pihaknya juga terpaksa melakukan penyesuaian harga beras yang wajib dibeli oleh seluruh pegawai di Pemkab Badung.
"Melalui surat edaran Bupati kita juga telah mengevaluasi harga beras untuk pegawai yang dulunya Rp12.500 menjadi Rp13.500 per kilogram. Harga ini tetap dibawah harga pasaran," ujarnya.
Nah, untuk menghadapi ketersediaan pangan, telah dilakukan langkah-langkah antisipasi. Salah satunya seperti perubahan anggaran tahun 2023 dengan memberikan penyertaan modal kepada Perumda Pasar Mangu Giri Sedana senilai Rp 31 Miliar.
"Salah satu item dari penyertaan modal tersebut yaitu Rp10 miliar untuk membeli produksi petani Badung dalam hal ini adalah gabah," ucapnya.
Dengan membeli gabah petani diharapkan akan memberikan kepastian harga untuk petani lantaran gerak tengkulak yang biasanya mempermainkan harga, akan sulit masuk. Ekosistim yang terbentuk akan berpengaruh pada peningkatan pendapatan petani, ketersediaan sekaligus dapat menekan inflasi.
"Jadi anggaran penyertaan modal tersebut juga akan digunakan untuk pembangunan RMU atau penyosohan gabah yang akan dikelola oleh Perumda Pasar dan Pangan MGS," imbuhnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.