Human Interest
Kisah Nengah Sinta, Disabilitas di Klungkung yang Menopang Hidup dari Kerajinan Anyaman Bambu
Kisah Nengah Sinta, Disabilitas di Klungkung yang Menopang Hidup dari Kerajinan Anyaman Bambu
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Fenty Lilian Ariani
SEMARAPURA,TRIBUN-BALI.COM - Menjadi seorang penyandang disabilitas, tidak membuat seorang Nengah Sinta (62) menyerah dengan keadaan. Keterbatasan fisik yang dialami warga asal Banjar Sanggih, Desa Akah itu justru menjadi membuatnya bekerja lebih keras agar tidak tergantung oleh orang lain.
Nengah Sinta begitu terampil menyelesaikan berbagai kerajinan anyaman di rumahnya yang sederhana. Anyaman dari bambu itulah, yang menopang kehidupannya selama bertahun-tahun.
Tekadnya untuk tetap mandiri, menjadi kekuatannya walaupun mengalami keterbatasan fisik.
“Saya sangat bersemangat sekali dari bangun pagi bekerja keras. Semasih saya bisa bekerja, saya akan terus semangat dan tak pantang menyerah agar bisa mencari nafkah dan tentunya tidak tergantung dengan orang lain," ujar Nengah Sinta, belum lama ini.
Ketrampilan membuat berbagai peralatan dari anyaman bambu, sudah dimilikinya sejak tahun 1984.
Ketika itu Nengah Sinta yang mengalami disabilitas, berkesempatan mengikuti Loka Bina Karya (LBK) di Dinas Sosial Kabupaten Klungkung.
Saat itu banyak keterampilan yang dipelajarinya, mulai dari membuat mebel dan anyaman.
Namun Sinta memilih serius menekuni kerajinan anyaman, karena marasa ada peluang dan memiliki bakat.
Terlebih untuk bahan baku, dirinya tidak sampai membeli karena memiliki lahan yang ditumbuhi banyak bambu.
Baca juga: Doa Melayat atau Mendengar Kematian Dalam Hindu Beserta Artinya, Simak Juga Doa Sehari-hari Lainnya
"Saya memilih serius membuat anyaman bambu ini, karena marasa lebih berbakat menganyam," ungkap Sinta.
Dari tanganya, banyak produk-produk dari anyaman bambu yang ia buat. Mulai dari bokor, tamas, tempat bunga dan tempat tisu. Kerjainan yang ia buat bahkan sudah dijual ke hotel-hotel, sanpai ada yang pernah mengajak wisatawan dari Belgia, Belanda dan Prancis kerumahnya untuk membeli anyaman bambu.
Dari usahanya itu, rata-rata Sinta memiliki penghasilan sekeitar Rp30 ribu sehari.
Atau rata-rata sekitar Rp1 juta setiap bulan. Meskipun penghasilannya tidak banyak, ia tetap bersykur karena masih bisa menghidupi diri sendiri walau dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.
"Walaupun fisik saya kurang, tuhan telah memberikan kelebihan. Bagi penyandang disabilitas janganlah menyerah, jangan merasa berkecil hati harus semangat dan belajar keterampilan agar bisa menghidupi diri sendiri,” ungkap I Nengah Sinta.
Sementara tetangga dari Nengah Sinta, I Wayan Dastra mengaku sangat termotivasi dengan kegigihan dari I Nengah Sinta.
“Meskipun keterbatasan fisik, saya sangat termotivasi dengan semangat yang dimiliki I Nengah Sinta. Ia sangat sadar mengalami kekurangan secara fisik, namun untuk tidak tergantung kepada orang lain dan bisa hidup mandiri,” ujar I Wayan Dastra.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.