Konflik Palestina Vs Israel
Tentara Israel Enggan Temui Benjamin Netanyahu, Kondisi Psikologis IDF Makin Memburuk
Tentara Israel yang terluka tolak temui Benjamin Netanyahu, kondisi psikologis IDF kian hari makin memburuk.
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tentara Israel yang terluka tolak temui Benjamin Netanyahu, kondisi psikologis IDF kian hari makin memburuk.
Sejumlah tentara Israel dilaporkan enggan temui Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Diketahui beberapa tentara menolak kunjungan Netanyahu karena merasa malu.
Dilansir Channel 13 Israel, Media Ibrani, melaporkan jika Benjamin Netanyahu bertemu dengan para tentara yang terluka di Rumah Sakit Sheba.
Baca juga: Isaac Herzog Sebut Israel Tak Perangi Gaza dan Hanya Targetkan Hamas, Korban Tewas Terus Bertambah
Namun meski telah mengumpulkan para tentara, tentara lainnya menolak untuk bertemu dengan Perdana Menteri Israel.
“Korban luka dikumpulkan di satu bagian, setelah tentara lain menolak bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, untuk menghindari rasa malu,” dikutip Channel 13 Israel pada Selasa (19/12/2023).
Saat itu Benjamin Netanyahu sedang melakukan kunjungan di departemen rehabilitasi, di Rumah Sakit Sheba Tel Hashomer untuk menemui tentara yang terluka dalam pertempuran darat di Jalur Gaza.
Dilansir Tribunnews.com, beberapa pasien menolak untuk bertemu dengannya.
Pertemuan itu dihadiri oleh perwakilan pejabat militer Israel dan pejabat di Kantor Perdana Menteri.
Tentara yang terluka dan bersedia menemui Netanyahu, dikumpulkan di bagian departemen yang terpisah dan terisolasi.
"Perdana Menteri mengunjungi Pusat Rehabilitasi Korban Perang pada hari Selasa di Rumah Sakit Medis Sheba, di mana ia bertemu dengan warga sipil yang terluka pada tanggal 7 Oktober dan tentara yang terluka selama pertempuran di Gaza," tulis Kantor Perdana Menteri Israel melalui pernyataan.
Tentara pendudukan Israel mengumumkan pada Selasa (19/12/2023), 9 perwira dan tentaranya tewas dalam pertempuran di Gaza dan 29 lainnya terluka dalam satu hari.
Baca juga: Bersedia Untuk Gencatan Senjatan, Presiden Israel Isaac Herzog Minta Hamas Bebaskan Sandera
Tentara Israel sejauh ini mengakui ada 464 perwira dan tentara telah terbunuh sejak awal perang pada 7 Oktober 2023, sementara pers Israel melaporkan ribuan tentara Israel terluka dan jumlah yang tewas lebih banyak lagi, dikutip dari Anadolu.
Kondisi Psikologis Tentara Israel Memburuk
Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan 500 tentara Israel telah hidup dengan kesulitan psikologis dan gangguan stres pasca-trauma sejak awal agresi di Jalur Gaza.
Media pemerintah Israel melaporkan dua minggu lalu sekitar 100 tentara Israel terluka parah di bagian mata dalam pertempuran di Gaza, antara 10-15 persen dari cedera tersebut mengakibatkan kebutaan pada satu atau kedua mata.
Sebelumnya, media Palestina melaporkan setelah operasi Banjir Al-Aqsa yang diluncurkan oleh Hamas, kondisi psikologis tentara pendudukan Israel memburuk.
Sejumlah tentara Israel menderita banyak penyakit psikologis dan ada beberapa yang menghindari misi militer mereka.
Baca juga: Hamas Rilis Video 2 Sandera Israel, Layangkan Kritik Pedas Ke Netanyahu: Anda Ingin Kami Mati
Presiden Israel Isaac Herzog Bersedia Lakukan Gencatan Senjata
Presiden Israel Isaac Herzog terbuka untuk melakukan gencatan sejata asalkan Hamas bersedia bebaskan semua sandera.
Isaac Herzog selaku Presiden Israel menegaskan jika ia terbuka untuk melakukan gencata senjata dengan kelompok militan asalkan Hamas bersedia untuk membebaskan para sandera Israel yang mereka tawan.
Tak hanya itu, mereka juga berjanji untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan di Gaza dengan syarat pembebasan para sandera tersebut.
Sebelumnya, Hamas mirilis beberapa video yang memperlihatkan permohonan para sandera Israel yang ditawan untuk segera dibebaskan tanpa syarat oleh pemerintah mereka.
Baca juga: Hamas Rilis Video 2 Sandera Israel, Layangkan Kritik Pedas Ke Netanyahu: Anda Ingin Kami Mati
Dalam pidatonya tersebut, ia didampingi para duta besar asing di Israel tentang upaya pembebasan sandera di Gaza.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada negara-negara anggota dan para pemimpin atas kepemimpinan mereka dalam tujuan membebaskan para sandera sesegera mungkin," katanya pada Selasa (19/12/2023), dikutip dari Al Jazeera dilansir Tribunnews.com.
Ia pun juga turut mengapresiasi segala upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk negara sekutu dan media.
"Upaya apa pun yang dapat dilakukan oleh negara, pemimpin, media, dan masukan diplomatik Anda dapat membantu memberikan tekanan pada berbagai negara yang terlibat dalam perang ini sangatlah penting," imbuhnya.
Selanjutnya, ia turut menyebutkan sejumlah sandera yang masih di tahan di Jalur Gaza.
“Pertama dan terpenting, kita harus ingat bahwa terdapat puluhan kasus kemanusiaan dalam kelompok sandera, seperti anak-anak, orang tua, orang sakit, orang terluka, dan tentu saja banyak perempuan,” katanya.
Setelah kesepakatan sandera selama 7 hari yang dimulai pada Jumat (24/11/2023), lebih dari 100 sandera telah dibebaskan dan diperkirakan masih ada 138 sandera di Jalur Gaza.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Hindari Rasa Malu, Tentara Israel yang Terluka Tolak Temui Netanyahu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Tentara-Israel-berkumpul-di-dekat-perbatasan-dengan-Jalur-Gaza.jpg)