Berita Gianyar

Seniman Made Djirna Letakkan Prasasti Seni Instalasi di Museum Arma Ubud

Kreativitas I Made Djirna dalam berkesenian tak pernah redup, meskipun pria asal Desa Kedewatan, Ubud, tersebut sudah menginjak usia 66 tahun

Istimewa
Pementasan I Made Djirna dalam detik-detik peletakan prasasti pada instalasi seni Numpang Lewat: Tumbuh dan Berkembang Bersama di Museum Arma Ubud, Jumat 5 Januari 2024 malam. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Kreativitas I Made Djirna dalam berkesenian tak pernah redup, meskipun pria asal Desa Kedewatan, Ubud, tersebut sudah menginjak usia 66 tahun, Minggu 6 Januari 2024.

Perupa yang namanya telah terkenal di dunia seni internasional itu, menambah kasanah kesenian di Meseum Arma Ubud, dalam mahakarya berjudul “Numpang Lewat: Tumbuh dan Berkembang Bersama” yang dikerjakan saat pandemi Covid-19 dan telah dipelaspas (diupacarai) pada 2021 lalu.

Baca juga: Cultural Of Ulun Danu Beratan 2024, Libatkan 1.750 Seniman Bali


Menurut Djirna, dalam setiap kesempatan waktu, kita selalu numpang lewat pada suatu ruang yang menjadi wadah bertumbuh dan berkembang, baik secara perorangan maupun sebagai pasangan, keluarga, kelompok, suku, bangsa dan masyarakat global.

Pada ruang dan waktu ini, kata dia, perkembangan manusia tidak lepas dari interaksi semesta dan lingkungan sekitar yang tumbuh dan berkembang sesuai hakikat dan mewujudkan eksistensialismenya.

Baca juga: Disbud Badung Beri Penghargaan Seni Kerti Budaya Bagi Seniman Yang Terus Berkesenian di Badung


“Mengikuti kaidah ruang dan waktu serta kebersamaan, ihwal yang terjadi dan dialami masing-masing pribadi akan terus melintas ke berbagai lapisan kehidupan yang menciptakan untaian dari diri pribadi ke masyarakat dan kembali lagi ke pribadi masing-masing,” ujar lulusan ISI Yogyakarta pada tahun 1985 itu.


Djirna menilai, tindakan kita dalam suatu ruang dan waktu akan meninggalkan jejak. Baik atau buruknya, tergantung pada niat dan dampaknya bagi lingkungan sekitar.

Baca juga: Pemain Rebab di Buleleng Terakhir Ditemukan 1979, Mulai Langka, Disbud Gelar Pelatihan pada Seniman

Gagasan itulah yang diwujudkannya melalui karya instalasi “Numpang Lewat: Tumbuh dan Berkembang Bersama” (2021) yang kini telah dibelit akar pohon beringin, sesuai dengan hukum alam dan lingkungan.


Secara keseluruhan, perupaan karya Djirna beranjak dari pengalaman diri pribadi dan medium yang dieratkan dengan filosofi kehidupan tradisi Bali, pencarian artistik serta estetika seni yang diperlakukan sesuai konteks ruang dan waktu.


Djirna telah menerima banyak penghargaan dan diundang dalam berbagai pameran tunggal maupun kelompok di sejumlah galeri serta museum di Indonesia, Australia, Belanda, Guam, Singapura, dan Swiss.


Karya Djirna telah menjadi bagian dari perhelatan seni rupa seperti “ArtJog 2023: Motif – Lamaran”, Jogja Nasional Museum, Indonesia (2023), “Asia Pacifc Triennale ke-10 (APT10)” di Queens Art Gallery; Gallery of Modern Art, Australia, “ArtJog 2019: Common Space”, Jogja Nasional Museum, Indonesia (2019), “ART•BALI 2018: Beyond the Myths”, ABBC Building, Indonesia (2018), “Jakarta Biennale 2017: JIWA”, Gudang Sarinah Ekosistem, Indonesia (2017), dan the “5th Singapore Biennale: An Atlas of Mirrors”, Singapore Art Museum, Singapura (2016).


Karyanya dikoleksi antara lain: Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; Museum Tumurun, Solo, Indonesia; Museum OHD, Magelang; Museum der Kulturen Basel; Singapore Art Museum; The Northern Territory Museum of Art and Science, Darwin, Project Eleven, Melbourne, Australia.


Pemilik Museum ARMA, Anak Agung Gde Rai mengatakan karya seni instalasi Djirna yang berada di kawasan museum ini sebagai karya partisipatori yang terus berkelanjutan dan melibatkan lingkungan secara alami.


“Pesan Djirna sangat kuat bahwa manusia yang dikaruniai bakat seharusnya memupuknya agar dapat berkembang dan memberikan sumbangsih bagi kebudayaan, kehidupan dan lingkungan secara luas,” katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved