Berita Denpasar
Dua Seniman Bali Tularkan Ilmu 4 Gerakan Seni Kepada Mahasiswa Sebagai Refleksi Kritis
Dua Seniman Bali Tularkan Ilmu 4 Gerakan Seni Kepada Mahasiswa Sebagai Refleksi Kritis
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dua seniman Bali, I Wayan Gede Budayana dan I Gede Jaya Putra mengajak mahasiswa para calon seniman muda untuk mulai mengeksplorasi perkembangan seni rupa di era modern yang cenderung bebas.
Puluhan mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan Institut Desain dan Bisnis bali (IDB) antusiasi mengikuti workshop di La Cabana Dijiwa Villa, Seminyak, Badung, Bali mengusung tajuk bertajuk Hidden Gems In The Art World.
"Materi yang disampaikan menjadi dasar eksplorasi ke seni-seni selanjutnya, apalagi kenyataan seni wacana seni hari ini, kenyataan seni hari ini cenderung memang isme-isme itu tidak dibicarakan terlalu detail seperti dulu, tapi masih bisa jadi pilihan etalase belajar dan ekplorasi, teknis, esensi, atau hal-hal yang sifatnya lebih personal," ujar Yandi sapaan karib seniman asal Singapadu itu kepada Tribun Bali, pada Jumat 22 Desember 2023.
Baca juga: Pedro Sanchez PM Spanyol Peringkatkan Akan Bahaya Israel, Tak Terima Berkuasa di Palestina
"Kalau pandangan saya secara pribadi hari ini, seni rupa begitu bebas, tidak terpaku lagi harus begini begitu, contoh style atau aliran apa yang harus kita anut yang bisa diambil dari isme-isme itu sebagai referensi," imbunya.
Calon seniman, kata dia harus memiliki pijakan untuk menapaki seni di era saat ini seiring dengan gairah anak-anak muda terhadap seni dengan ciri khas karya secara visual yang ceria, meriah, berwarna dan beragam.
"Di era saya berbeda, seni yang sifatnya memadukan tradisional, artistik magis, masuk ke seni-seni yang waktu itu disebut minimalis, visualnya obyek orang, realis,s ekarang ragam warnanya bermacam-macam," tuturnya.
Baca juga: Ramalan Zodiak 23 Desember 2023, Aquarius Jomblo Akan Bertemu Orang Spesial, Capricorn Makin Mesra
Seniman senior lainnya, I Gede Jaya Putra menjelaskan, bahwa dalam event bertajuk Hidden Gems In The Art World ini mengangkat 4 fokus gerakan seni rupa meliputi Foldism, Cubism, Dadaism dan Minimalism untuk menjadi refleksi kritis karena mengacu pada culture studies dengan menarik kembali esensi seni terdahulu ke masa sekarang yang serab mungkin.
Kedepan mereka seniman akademis bakal terlibat dalam medan seni melalui infrastruktur seni yang terdiri dari galeri, seniman, appraisal dan kurator, sehingga harus siap dari bangku kuliah saat ini menentukan arah mereka menempatkan seni sebagai wacana kritis.
"Hari ini kita bicara tentang seni rupa kontemporer yang apapun boleh semua serba mungkin, semua orang bisa jadi seniman, apa yang membedakan seniman akademis, otodidak, dan semua orang ajdi seniman itu, jawabannya adalah seberapa penting sisi karya itu, di pasar, masyarakat atau justru di medan seni, akhirnya seni kontemprorer ada ranah untuk menentukan itu," bebernya.
"Jangan ikuti yang berbau euforia saja, ikuti galeri yang bisa memberikan sisi edukatif. Dulu ada mendobrak hegemoni, karya yang membebaskan, sehingga anak muda bebas sekarang karyanya. Event akhir tahun ini mengangkat underrated art movement, sebelum genre ini keluar kan ada gerakan, art movement sampai kapanpun tidak hilang karena melalui proses sejarah bukan hanya seni, tapi politik, agama, suku atau komunitas tertentu," jabarnya.
Lalu muncul wadah untuk galeri melalui Platform Lucy Dreams, memberikan peluang untuk para seniman menampilkan serta menjual karya seninya untuk menunjang dari segi manajemen seni secara variatif dan tidak ada unsur senioritas, dari seniman pemula maupun senior bisa satu frame di lucy Dream menjadi peleburan batas-batas.
"Seniman yang bergabung lebih fokus ke sign artwork, mereka masih bebas bergabung dengan galeri lain, tidak terikat, karya yang sudah sign tersebut masih bisa dijual, karena kita fokus e-commerce jadi bisa dipamerkan di platform mana saja, hanya yang sudah terkontrak dengan kami, kalau mau dipamerkan lagi menggunakan harga yang dari kami," tutur Account Excutive Lucy Dreams Gallery, Apriyandi.
"Di dalam galeri Lucy Dreams saat ini ada 75 seniman, rata-rata mereka 3-8 artwork, yang sudah ada tanda on sale itu terdapat 550 karya seni," pungkasnya. (*)
Terkait SE Penyesuaian Penetapan Pajak dan Retribusi Daerah dari Mendagri, Ini Kata Bapenda Denpasar |
![]() |
---|
Kembangkan Kampung Kuliner Serangan Bali, Dispar Denpasar Tengah Jajaki CSR |
![]() |
---|
Perizinan Nuanu di Pantai Nyanyi Tabanan Disebut Belum Lengkap, Ini Hasil Sidak DPRD Bali |
![]() |
---|
Dilaporkan Warga karena Bising, Pengunjung malah Viralkan Polisi Saat Datangi Kafe di Denpasar |
![]() |
---|
Ringankan Beban Umat, PHDI Denpasar Bali Akan Gelar Upacara Menek Kelih hingga Metatah Massal |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.