Makna Penjor Pada Hari Raya Galungan Menurut Ajaran Agama Hindu, Ternyata Bukan Sekedar Hiasan
apa makna sebenarnya dari pembuatan penjor menurut ajaran agama Hindu Bali?, ini nih ternyata tujuan utama dari Penjor
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pada saat mendekati hari raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu Bali pasti akan membuat dan menancapkan Penjor di depan rumah masing-masing.
Lantas, apa makna sebenarnya dari pembuatan penjor menurut ajaran agama Hindu Bali?
Tujuan pemasangan penjor sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti dan terima kasih kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa-NYA sebagai Hyang Giripati.
Pemasangan penjor dilaksanakan pada hari Anggara Wage wara Dungulan atau sehari sebelum Galungan setelah menghaturkan banten Penampahan Galungan.
Baca juga: TKD Jembrana Fokus Kawal Program, Prabowo-Gibran Menang 59 Persen di Jembrana
Penampahan Galungan adalah rangkaian hari dalam hari raya Galungan saat masyarakat Hindu Bali biasanya melakukan penyembelihan hewan untuk diolah menjadi bahan masakan.
Tujuan hari penampahan Galungan adalah sebagai pengingat bagi umat Hindu Bali untuk menampah (membunuh) sifat-sifat jahat menuju hari raya Galungan.
Penjor Galungan sebaiknya dipasang saat penampahan Galungan, dikarenakan saat penampahan umat Hindu niyasa kebaikan yang tertanam dalam diri dan keburukan dihias agar menjadi kebaikan.
Selain itu, sesuai keyakinan bahwa leluhur akan datang ke pemerajan dan penjor segar ini merupakan bentuk penghormatan secara sekala.
Sehingga akan lebih baik jika warnanya dari kuning dan putih dari janur dan ambu.
Selain itu, penjor juga berkaitan dengan upacara Dewa Yadnya, sehingga apa yang dipersembahkan harus segar.
Penjor dapat dicabut pada hari Minggu (Redite Umanis Langkir sehari setelah Kuningan).
Baca juga: Kecipratan Dana Inpres, Jalan Raya ke Wisata Unggulan di Nusa Penida Akan Berupa Jalan Beton
Namun, umumnya pencabutan penjor Galungan yang umum dilakukan umat Hindu di Bali adalah pada hari Rabu 42 hari setelah hari raya Galungan pada kalender Bali disebut Buda Kliwon Pahang atau disebut Buda Kliwon Pegat Uwakan.
Setelah pencabutan penjor, perlengkapan penjor seperti sampian, lamak serta perlengkapan upakara Galungan lainnya dapat dibakar dan abunya sebagian disimpan pada kelapa gading muda yang dikasturi.
Didalam lontar Tutur Dewi Tapini juga telah disebutkan bahwa setiap unsur dalam penjor melambangkan simbol-simbol suci yaitu sebagai berikut.
1. Bambu sebagai vibrasi kekuatan Dewa Brahma
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Ilustrasi-penjor-di-Bali1.jpg)