Joged Bumbung Viral
Sejarah Tari Joged Bumbung, Dulu Khusus Untuk Kerajaan, Terdapat Unsur Romantika
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali, Prof I Gede Arya Sugiartha pun menceritakan bagaimana sejarah dari Joged Bumbung ini.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tari Joged Bumbung ini adalah sebuah tari pergaulan yang sangat indah.
Terdapat unsur romantika, di mana ketika seseorang penari memanggil salah satu penonton untuk ikut menari bersama antara wanita dengan pria, atau yang disebut mengibing dengan gerakan-gerakan yang indah, sehingga memang tari ini berkembang dari zaman ke zaman.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali, Prof I Gede Arya Sugiartha pun menceritakan bagaimana sejarah dari Joged Bumbung ini.
“Kalau kita telusuri aspek historisnya, dulu ketika zaman kerajaan ada namanya Joged Pingitan. Di setiap istana raja ada empat kesenian utama ada Semar Penggulingan, Pelegongan, Bebarongan dan Joged Pingitan. Jadi Joged Pingitan ini konon dulunya adalah hiburan untuk para raja,” ucap Prof Arya beberapa waktu lalu.
Baca juga: Bertemu Penari Joged Bumbung Viral, Arya Wedakarna Tegaskan Tetap Tak Setujui Joged “Jaruh”
Ketika zaman sudah tidak lagi zaman Kerajaan, beberapa kesenian ini sudah keluar dari tembok keraton dan dipelihara oleh masyarakat.
Sehingga bentuknya pun sudah mengalami perkembangan, mungkin ketika di istana tidak diiringi dengan Bumbung tapi ketika di masyarakat yang saat itu masyarakat tidak punya Gamelan di daerah-daerahnya banyak bambu seperti di Jembrana, Tabanan dan Buleleng, dibuatkanlah iringan dengan instrumen Bumbung namanya dan jadilah Joged Bumbung.
“Dan joged ini pun sudah tidak pingit, karena kalau dulu kan hanya raja yang boleh ngibing atau ikut menari, kalau sekarang siapa saja sudah boleh ikut menari. Karena unsur estetika inilah joged ini sangat berkembang jadi terus menerus masyarakat di beberapa desa selalu memang menghidupkan kesenian ini,” imbuhnya.
Ada juga tradisi yang unik bagi masyarakat Bali, misalkan dia mesesangi (berjanji) kalau memiliki anak laki-laki atau perempuan nanti saat upacara tiga bulanan bayinya membayar janji dengan menghadirkan Joged Bumbung.
Dan ini cara masyarakat Bali untuk menghargai keseniannya. Hal ini sudah menjadi tradisi adiluhung.
“Maka dari itu joged ini kita ajukan menjadi salah satu budaya tak benda. Dari sembilan tari-tarian yang ada di Bali itu salah satunya adalah Joged Bumbung. Dan dengan perkembangan saat ini ketika Joged Bumbung sudah dikukuhkan sebagai warisan budaya tak benda, tugas kita adalah selanjutnya adalah untuk merawat,” tutupnya.
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Salah-satu-momen-penampilan-Joged-Bumbung-Klasik.jpg)