Berita Buleleng
Panen Cabai Perdana di Hutan Kota Buleleng, Hasilkan 117 Kilogram dan Disebar di Pasar-pasar
Dalam panen perdana itu, ada sebanyak 117 kilogram cabai yang dihasilkan dan akan disebar di pasar untuk mengendalikan inflasi.
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Pemkab Buleleng memanen cabai yang ditanam di hutan kota, Kelurahan Banyuasri, Buleleng. Dalam panen perdana itu, ada sebanyak 117 kilogram cabai yang dihasilkan dan akan disebar di pasar untuk mengendalikan inflasi.
Pj Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana, mengatakan, hutan kota seluas 1,9 hektare ini dimanfaatkan untuk menanam tanaman komoditas penyebab inflasi seperti cabai dan sayur-sayuran. Lahan tersebut dirawat oleh para petugas kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Kemudian hasilnya, diserap oleh Perumda Pasar Argha Nayottama dan Perumda Swatantra, untuk kemudian disalurkan ke pasar di Buleleng, sehingga harga kebutuhan pokok tetap stabil.
Baca juga: RUKO Terbakar di Jalan Raya Kuta, Diduga Korsleting Listrik, Tidak Ada Korban Jiwa, Simak Beritanya!
Baca juga: LIBUR Idul Adha Bandara Ngurah Rai Membludak, Empat Hari Layani 291 Ribu Lebih Penumpang
"Dengan catatan harga jualnya tidak melebihi harga pasar. Misal sekarang cabai di pasar seharga Rp 30 ribu per kilogram, Perumda harus jual dibawah itu. Sehingga inflasi bisa kita tekan," ujarnya, Selasa (18/6).
Sementara Pj Gubernur Bali, Mahendra Jaya yang hadir dalam panen perdana menyebut, ketersediaan pangan dan harga perlu dijaga agar tidak mempengaruhi inflasi.
"Cabai ini sangat penting. Kalau harga naik, bisa mempengaruhi inflasi. Kalau tidak tersedia di pasaran dan harganya mahal, masyarakat akan gelisah," katanya.
Kata Mahendra, saat ini inflasi di Buleleng masih tergolong rendah dan terkendali. Demikian dengan Bali, juga mengalami deflasi. Namun ia tidak memungkiri, meski harga cabai saat ini berhasil dikendalikan, kenaikan harga justru terjadi pada tomat.
"Jadi harga dan pasokannya harus terus dijaga. Memasuki kemarau panjang juga perlu dilakukan antisipasi, agar petani tidak mengalami gagal panen," ujarnya. (rtu)
| DINSOS Pastikan Pendampingan Berlanjut, Delapan Korban Kasus LKSA GS Dipindahkan ke Panti |
|
|---|
| SAPI Terjun ke Sumur Dikira Hilang Oleh Pemiliknya di Desa Banyupoh, Evakuasi Tim TRC Berhasil |
|
|---|
| Baru Saja Dibeli, Dikira Hilang, Sapi Milik Warga di Buleleng Ternyata Masuk Sumur Sempit |
|
|---|
| Kebutuhan 3.000 Telur per Hari, Program MBG Jadi Peluang Besar Usaha Desa di Sukasada Buleleng |
|
|---|
| PEMILIK Bangunan Liar Diberi Waktu 30 Hari Bongkar Mandiri, Kappa: Tidak Ada Ganti Rugi! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Acssdvfdsvdbarbh.jpg)