Berita Nasional
RUPIAH Makin Tertekan! Banggar DPR RI Minta Pemerintah Jangan Terlena, Imbas Konflik Rusia-Ukraina?
Diketahui, investor asing melepas SBN sejak pandemi Covid-19. Pada tahun 2019, porsi asing dalam SBN sebanyak 38,5 persen.
TRIBUN-BALI.COM - Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyoroti nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan.
Sejak The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memberlakukan suku bunga tinggi sebagai respon atas inflasi tinggi akibat kenaikan harga komoditas global imbas konflik Rusia-Ukraina, sejumlah mata uang lokal mengalami tekanan hebat, di antaranya lira, yen, won, baht, real, peso hingga rupiah.
Secara year to date, rupiah berada di level Rp 15.317 hingga Rp 16.483 per dolar AS. Dibandingkan tahun lalu, posisi rupiah minus 5,25 persen. Kecenderungan rupiah yang melemah ini disebabkan situasi eksternal dan internal.
Belakangan, investor menarik diri, khususnya dalam perannya sebagai buyer di Surat Berharga Negara (SBN).
Diketahui, investor asing melepas SBN sejak pandemi Covid-19. Pada tahun 2019, porsi asing dalam SBN sebanyak 38,5 persen.
Setahun kemudian porsinya hanya 25,1 persen dan pada akhir Mei 2024 tinggal 14 persen. Perginya investor asing pada SBN mengakibatkan kepemilikan dolar AS juga semakin menurun.
Baca juga: NUNAS BAOS Keluarga Mendiang Putu Satria, Sebut Faktor Iri Hati, Sang Ibu Enggan Ketemu Tersangka
Baca juga: RUPIAH Nyaris Tembus Rp16.300 per Dolar AS, Belanja Negara Akan Membengkak!
Musabab lainnya, harga komoditas ekspor andalan Indonesia, seperti batubara dan CPO pada 2023 dan 2024 tidak setinggi pada tahun 2022.
Pasalnya, sejak pertengahan tahun 2023 hingga kini, harga batubara hanya di kisaran 120-an dolar AS per ton. Padahal pada awal kuartal II-2022 hingga kuartal I-2023 harga batubara di level 400 dolar AS per ton.
Begitu juga dengan harga CPO yang tidak secuan tahun 2022. Harga CPO pada tahun 2022 berada di level 4.200 hingga 4.440 Ringgit per ton.
Sedangkan kini, hanya 3.800 hingga 3.900 Ringgit per ton. Menurunnya dua komoditas andalan Indonesia ini tidak membuat dompet devisa negara tebal.
Di saat yang sama, pemerintah justru membuka kran impor. Besarnya arus impor ini membuat arus dolar AS semakin pergi.
Bukan hanya rupiah yang terpukul karena meluaskan kran impor, sejumlah industri dalam negeri secara tekstil malah gulung tikar dan merumahkan karyawannya.
Dari sisi eksternal, perekonomian AS perlahan-lahan makin membaik sejak badai inflasi di tahun 2022. Penguatan perekonomian AS ini membuat investor memilih meninggalkan Indonesia, akibatnya tiada pundi-pundi devisa baru.
Akibat situasi tersebut, pada tahun 2023, current account Indonesia mengalami defisit 1,6 miliar dolar AS. Bahkan food trade deficit Indonesia pada tahun 2023 menyentuh 5,3 miliar dolar AS atau menjadi angka tertinggi.
Untuk itu, Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menyarankan pemerintah untuk tidak terlena dengan data inflasi rendah yang berada di level 3 persen. Hal ini karena inflasi rendah semata-mata tidak bisa diartikan sebagai terkendalinya harga kebutuhan pokok rakyat.
| Harga Beras dan Minyak Goreng Naik Tajam, Daya Beli Masyarakat Melemah |
|
|---|
| ASTAGA! Polisi Diduga Rudapaksa Remaja Perempuan di Jambi, Hotman Paris Turun Tangan |
|
|---|
| Pedagang Pasar Tradisional Tertekan Biaya Plastik, Ngadiran: Masyarakat Belum Terbiasa |
|
|---|
| Tak Sedikit Warga Bekerja Sampingan Demi Bertahan Hidup, Literasi Keuangan Masih Kisaran 66 Persen |
|
|---|
| Enggan Tanggapi Komentar Tajam ke Menpar, Wamen Ni Luh Puspa: Tanya ke Ibu Menteri Saja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/a-csadvsdvwb.jpg)