Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bangli

Petani Kopi Kintamani Butuh Subsidi, Pemerintah Diminta Beri Bibit dan Pupuk Gratis

Ia mengatakan, subsidi dari proses produksi salah satunya bisa dilakukan dengan memberikan bibit dan pupuk gratis pada para petani.

TRIBUN BALI/FREDEY MERCURY
KOPI KINTAMANI - Gus Santoso saat ditemui di tempat produksi kopi miliknya. Pengusaha kopi itu menilai kopi arabika Kintamani masih minim produksi lantaran kurangnya perhatian dari pemerintah. 

TRIBUN-BALI.COM - Kopi Arabika Kintamani sudah banyak dikenal oleh masyarakat karena kualitas dan rasanya yang khas. Kendati demikian, produksi kopi asli Bali ini justru masih minim sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar.

Pelaku usaha kopi, Ida Bagus Santoso mengatakan, kopi Arabika merupakan komoditas ekspor dunia. Indonesia merupakan salah satu penyumbang kopi terbesar dengan produksi kopi Arabika mencapai 500 ribu ton per tahun.

"Indonesia memiliki tujuh jenis kopi Arabika dan kopi Arabika Kintamani merupakan salah satunya. Hanya saja dari sisi kapasitas kopi Kintamani ini tidak masuk," jelasnya, Kamis (27/6).

"Jumlah produksi per tahunnya kurang lebih hanya 5.000 hingga 10 ribu ton. Jarang yang berani membuat kontrak kopi Kintamani karena kapasitas produksinya masih kecil," sambungnya.

Baca juga: PKB 2024, Jangan Takabur, Tetap Membumi, Pesan Moral di Balik Dolanan Metajoga Ala Jembrana 

Baca juga: Bali Belum Bisa Disebut Bebas Meningitis, Meski Sudah Tak Ada Kasus Yang Muncul

Gus Santoso mengatakan, perlu adanya keberpihakan pemerintah pada para petani kopi di Kintamani. Dengan demikian para petani lebih tertarik untuk menanam kopi karena dianggap menguntungkan dari komoditas lainnya.

"Untuk mendapat keuntungan yang lebih besar di petani, maka proses pengolahannya harus secara premium. Dari sinilah pemerintah bisa masuk untuk ikut mencari solusi masalahnya. Baik itu dalam bentuk subsidi, pendampingan, ataupun bantuan," ujarnya.

Ia mengatakan, subsidi dari proses produksi salah satunya bisa dilakukan dengan memberikan bibit dan pupuk gratis pada para petani. Cara ini dinilai mampu memotong biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani.

"Karena dengan adanya subsidi biaya produksi otomatis akan menurun. Dengan demikian keuntungan yang didapatkan oleh petani mengalami peningkatan," jelasnya.

"Inilah yang mampu merangsang minat petani untuk menanam kopi daripada komoditas lain. Disamping itu juga perlu pendampingan saat panen, agar kualitas kopi yang dipanen benar-benar terjaga," sambung dia. (mer)

 

Peluang Besar

Dengan meningkatnya tren pariwisata Kintamani serta menjamurnya coffee shop saat ini, menjadi peluang besar untuk lebih mengenalkan kopi Kintamani.

Sehingga kopi Arabika Kintamani menjadi tuan rumah di daerah sendiri. Pelaku usaha kopi, Ida Bagus Santoso mengatakan, akan sangat aneh ketika orang Kintamani justru menikmati atau menyukai kopi lain.

"Saya berharap kopi Kintamani ini menjadi tuan rumah, serta Kintamani ini menjadi etalasenya kopi Arabika Kintamani. Orang datang ke Kintamani benar-benar bisa menikmati kopi asli yang hanya tumbuh di Kintamani, termasuk juga membawa oleh-oleh kopi asli Kintamani. Jangan sampai orang Kintamani justru menikmati kopi lain," tandasnya. (mer)

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved