PKB 2024

PKB 2024, Jangan Takabur, Tetap Membumi, Pesan Moral di Balik Dolanan Metajoga Ala Jembrana 

Permainan ini melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh, karena peserta harus berjalan atau berlari dengan memakai bambu yang dirakit alas kaki

ISTIMEWA
PERWAKILAN JEMBRANA - Gong kebyar anak-anak dari Jembrana sukses menghibur penonton di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Selasa (25/6). Sekaa gong dari komunitas seni Cakra Birama ini tampil membawakan tiga garapan di antaranya tabuh kreasi kekebyaran berjudul Sa-Angkep, tari Jalak Putih serta tari Dolanan berjudul Metajoga. 

TRIBUN-BALI.COM - Gong kebyar anak-anak dari Jembrana memukau penonton di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center. Sekaa gong dari komunitas seni Cakra Birama ini tampil membawakan tiga garapan di antaranya tabuh kreasi kekebyaran berjudul Sa-Angkep, tari Jalak Putih serta tari Dolanan berjudul Metajoga.

"Astungkara, penampilan dari duta Jembrana seperti gong kebyar anak-anak ini juga bisa menghibur. Animo penonton juga terlihat sangat antusias menyaksikan duta kabupaten Jembrana," ucap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara, Kamis (27/6).

Dari tiga kreasi tari dan tabuh itu, Dolanan Metajoga sukses menarik perhatian penonton dan undangan yang hadir. Ide dan gagasannya diambil dari permainan tradisional Bali yaitu Metajoga.

Permainan ini melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh, karena peserta harus berjalan atau berlari dengan memakai bambu yang dirakit sebagai alas kaki. Permainan ini bisa meningkatkan postur tubuh, fleksibilitas, dan refleks.

Pesan di balik tarian ini, ketika manusia berada di atas jangan pernah menyombongkan diri tetaplah untuk melihat ke bawah. Jika menjadi pemimpin pada saat berkuasa lihatlah masyarakat.

Baca juga: Imigrasi Bekuk 103 WNA di Tabanan, Diduga Lakukan Kejahatan Siber

Baca juga: Kasus di Jembrana, Sodikin Penjara 15 Bulan, Vonis Terdakwa Kasus Penyelundupan Penyu

Jangan sampai jeritan masyarakat menjadi tawa dipikiran para pemimpin. Sehingga hal ini selalu pedoman untuk meningkatkan nilai-nilai luhur dan adiluhung yang diturunkan secara turun temurun.

Sedangkan tabuh kreasi kekebyaran Sa-Angkep tercipta dari sebuah imajinasi dan naluri komposer tentang gambaran kehidupan manusia, yang dituangkan ke dalam sebuah gending Tabuh Kreasi Kekebyaran dengan cerminan perbedaan sifat, karakter dan pola pikir antara sesama manusia, sehingga kadang membuat sebuah perbedaan persepsi atau pendapat.

Perbedaan tersebut adalah sebuah keunikan yang dimiliki setiap orang sehingga akan membentuk sebuah keragaman yang kompleks dalam kehidupan, sehingga perlu sebuah penyeragaman persepsi untuk mencapai tujuan bersama demi terciptanya keharmonisan dalam hidup.

Selanjutnya, Tari Jalak Putih menceritakan tentang kesedihan burung jalak yang sedang diburu oleh pemburu, karena keindahan dan kelincahannya. Tarian ini diciptakan tahun 1984 oleh Gusti Bagus Arsaja.

Sapta Negara mengatakan, Gong Kebyar Anak-anak dari Komunitas Seni Cakra Birama telah dipersiapkan secara maksimal untuk bisa memberikan hiburan bagi para penonton yang hadir di PKB tahun 2024 ini.

Sebelumnya, kabupaten Jembrana juga telah menampilkan Gong Kebyar Wanita dari Sanggar Kumara Widya Swara dan Baleganjur dari Sanggar Seni Arsa Wijaya Desa Nusasari yang berhasil memukau ribuan penonton dengan penampilan Raja Buduh yang unik dan menghibur, bahkan hingga viral di media sosial. (mpa)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved