Berita Nasional
Kampung Sayyidan dalam Sejarah Perang Diponegoro dan Peran Kaum Ba'alawi Menurut Sejarawan
Kampung Sayyidan dalam Sejarah Perang Diponegoro dan Peran Kaum Ba'alawi Menurut Sejarawan
Datang secara bergelombang, pertama didatangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1838 hingga bergelombang datang pada tahun 1900 masehi. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan sensus pada tahun 1859 masehi dan diketahui jumlah orang orang Yaman dari Hadramaut yang telah menetap di Hindia Belanda sebanyak 7.786 jiwa.
Mereka mendirikan organisasi keagamaan, pencatatan silsilah orang-orang dari Hadramaut Yaman tersebut dengan nama Rabithah Alawiyah pada tahun 1928 Masehi yang didirikan oleh Alwi bin Thahir Al Hadad .
Jadi dalam catatan sejarah memang yang ikut perang dalam perang Jawa yakni perang Diponegoro adalah kaum golongan Sayyid yang datang dari Kota Hijaz antara Kota Madinah dan Kota Mekah saat itu, yang berkampung di Kota Sayyidan Jogjakarta.
Sedang kaum dari golongan Hadramaut Yaman yang dikenal dengan Habib Ba'alawi baru datang pada tahun 1838 atau dua tiga tahun setelah perang Jawa berakhir dan difasilitasi oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Bendahara Pangeran Haryo Diponegoro (Pangeran Diponegoro) yang memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo merupakan seorang bangsawan Keraton Ngayogjokarto Hadiningrat asli Jawa.
Beliau adalah anak dari Sri Sultan Hamengkubuwono ke III dengan istri selir-nya RA Mangkarawati yang lahir pada tahun 1785 pada 11 November, yang mendalami thorikhot Sattariyah.
Setelah perang Jawa seluruh anak keturunanya terusir dari Keraton Jogjakarta dan hidup menyebar di seluruh pelosok Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Lampung, dengan menghilangkan seluruh status dan identitasnya sebagai keturunan Raja Jogja, hidup seperti layaknya masyarakat bawah, dimana saat itu Pemerintahan Hindia Belanda masih berkuasa.
Dari fenomena yang terjadi saat ini beberapa oknum dari Kaum Ba' alawi selalu melakukan doktrinisasi terhadap para kaum pribumi atau dulu disebut bumi putera soal keturunan Rosullullah dan surga serta neraka. Menurut Prof. Menachem Ali yang diwawancarai oleh H Rhoma Irama menyatakan bahwa berdasarkan manuskrip tertulis yang mana selalu dijadikan bahan rujukan Nasab dan manuskrip tertulis tersebut sudah ditemukan pada 3 abad sebelum masehi.
Pada abad ke-7 juga sudah dapat dikonfirmasi saat Nabi Muhammad hidup memang sudah ada bukti secara tertulia. Dalam transkrip manuskrip tertulis, tapi khusus untuk kaum keturunan Ba' alawi dari Yaman tersebut terputus manuskrip. Tertulis sebagai sumber rujukan keturunan tokoh Sayyid ubaidillah anak dari Sech Ahmad Al Muhajir selama 500 tahun yakni tidak terkonfirmasi pada abad ke-4 sampai abad ke-8 dan baru ada pada abad ke-9 secara internal mereka.
Jadi menurut Prof Menachem Ali, pada abad ke-2 Masehi ditemukan manuskrip tertulis yang ditulis oleh Claudius Pettolemi dalam buku catatannya yang berjudul "Geografia" sudah menulis tempat di Hadramaut Yaman dengan istilah sebutan Hadramanitay.
Diambil dari nama orang yang hidup direntang waktu 100 Masehi dan meninggal pada tahun 1700 Masehi.
Berarti pada abad ke-2 Masehi mereka disebut sebagai keturunan suku Kastan yang merupakan keturunan SAM, yang menurunkan orang orang Yaman, yang tidak terkait dengan keturunan Nabi Ibrahim atau Ismail, apalagi Nabi Muhammad.
Prof Menachem Ali dari Unair dan KH Imadudin Ustman Al Bantani cukup menjadi keyakinan kelompoknya dan pribadi - pribadinya saja, tapi jangan dijadikan alat doktrinisasi untuk mempengaruhi kelompok keturunan lain bahwa mereka keturunan Nabi dan berkaitan dengan menjual Surga dan neraka.
Ini tentu akan menjadi masalah tersendiri antar kelompok masyarakat, apalagi jikalau sudah mau memutar balikan sejarah bangsa ini, dan melakukan pemalsuan makam makam leluhur para Raja Jawa.
Kedepannya, jikalau tidak mengalami kesadaran akan fenomena terstruktur terjadinya penjajahan budaya dan sejarah ini akan merubah wajah sejarah bangsa ini, bukan lagi tokoh-tokoh kemerdekaan seperti yang sekarang dalam sejarah dan raja-raja Jawa dulu.
"Bukan lagi orang Jawa Nusantara sesuai Sumpah Pemuda pada tahun 1928 lagi, pada sejarah 50 tahun kedepan dan ini harus diwaspadai," kata KH Imaduddin Usman Al Bantani.
Tidak semua habib punya pemikiran seperti yang yang telah kita saksikan di media sosial yang menghujat dan merendahkan orang dan ulama asli Indonesia dengan menyatakan sebagai keturunan Rasul.
| Tak Sedikit Warga Bekerja Sampingan Demi Bertahan Hidup, Literasi Keuangan Masih Kisaran 66 Persen |
|
|---|
| Enggan Tanggapi Komentar Tajam ke Menpar, Wamen Ni Luh Puspa: Tanya ke Ibu Menteri Saja |
|
|---|
| OJK Sambut Positif Klasifikasi FTSE Russell dan Tegaskan Komitmen Integritas Pasar Modal |
|
|---|
| Akbar Faizal Sentil Kinerja Menteri Pariwisata, Singgung Harapan Publik yang Kian Pupus |
|
|---|
| Hadir di Rakernas Muaythai Indonesia 2026, Menpora Apresiasi Kepemimpinan La Nyalla |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Agus-Widjajanto-opini.jpg)